
Yang Teramat Mulia Sri Paus Fransiskus Mengetahui dan menyampaikan Bahwa ;
- Sri Paus Fransiskus mengakui Indonesia adalah negara besar, mosaik budaya, suku bangsa, adat istiadat, keberagaman yang sangat kaya, yang tercermin pula dalam keanekaragaman ekosistem dan lingkungan sekitarnya, dan jika benar kalian adalah tuan rumah tambang emas terbesar di dunia, ketahuilah bahwa harta yang paling berharga adalah kemauan agar perbedaan tidak menjadi alasan untuk bertikai, tetapi diselaraskan dalam kerukunan dan rasa saling menghormati. Jangan sia-siakan anugerah ini! Jangan pernah memiskinkan diri kalian dari kekayaan yang besar ini, sebaliknya, kembangkan dan wariskan, terutama kepada kaum muda.
- Sri Paus Fransiskus ternyata mengetahui Indonesia memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika, bersatu dalam keberagaman, secara harfiah berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua mengungkapkan realitas beraneka sisi dari berbagai orang yang disatukan dengan teguh dalam satu bangsa. Semboyan ini juga memperlihatkan bahwa, sebagaimana keanekaragaman hayati yang ada dalam negara kepulauan ini adalah sumber kekayaan dan keindahan, demikian pula perbedaan-perbedaan. Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika selama ini telah menyatukan beragam agama, suku, dan bahasa di Indonesia. Kami meyakini perbedaan adalah berkah dan toleransi merupakan kunci persatuan serta perdamaian di tengah meningkatnya konflik global.
- Sri Paus Fransiskus berbicara di Istana Kepresidenan berkta; “Saya ingin menjadikan kata-kata dari Santo Yohanes Paulus II dalam kunjungannya pada 1989 di Istana ini sebagai perkataan saya, beliau (Paus Yohanes Paulus II) berkata, dengan mengakui kehadiran keanekaragaman yang sah, dengan mengakui hak-hak manusia dan politik dari semua warga, dan dengan mendorong pertumbuhan persatuan nasional berlandaskan toleransi dan sikap saling menghargai terhadap orang lain, Anda orang Indonesia meletakkan fondasi bagi masyarakat yang adil dan damai yang diinginkan semua warga Indonesia untuk diri sendiri dan rindu untuk diwariskan kepada anak-anak setelahnya, terkadang nilai-nilai luhur mengenai pengakuan hak-hak manusia dan politik dari semua warga, luput dari kehidupan berbangsa. Maka kini Indonesia perlu kembali lagi ke nilai-nilai baik tersebut agar selamat. Jika terkadang di masa lalu prinsip-prinsip tersebut tidak selalu diterapkan, namun prinsip-prinsip ini tetap berlaku dan dipercaya ibarat mercusuar yang menyinari jalan yang ditempuh dan yang memperingatkan tentang kesalahan-kesalahan yang amat berbahaya yang harus dihindari.” kata Sri Paus Fransiskus. Karena opus justitiae pax, perdamaian adalah karya dari keadilan. Kerukunan dicapai ketika kita berkomitmen tidak hanya demi kepentingan-kepentingan dan visi kita sendiri, tapi demi kebaikan bersama, dengan membangun jembatan, memperkokoh kesepakatan dan sinergi, menyatukan kekuatan untuk mengalahkan segala bentuk penderitaan moral, ekonomi, dan sosial, dan untuk memajukan perdamaian dan kerukunan. Kita memahami pesan yang ingin disampaikan oleh Sri Paus bahwa situasinya dengan hari ini belum banyak berubah dari tiga setengah dekade yang lalu, ketika Paus Yohanes Paulus II berbicara hal yang sama di Istana yang sama. Ini pesan sekaligus kritik agar Pemerintah dalam kebijakannya tidak abai terhadap hak-hak dasar manusia dalam keaneka ragaman yang sah. Sehingga apa yang disampaikan Paus Yohanes Paulus II 35 tahun lalu tidak berulang untuk 35 tahun y.a.d.
- Contoh yang dilakukan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar mencium Pemimpin Takhta Suci Vatikan Paus Fransiskus dan Pemimpin Takhta Suci Vatikan Paus Fransiskus (kanan) mencium tangan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar usai melakukan foto bersama di Masjid Istiqlal, Jakarta adalah cerminan nyata semakin teguh kerukunan umat beragama untuk kemanusiaan.”
- Sri Paus Fransiskus membawa pesan kesederhanaan dan perdamaian serta menghargai keberagaman umat, menunjukkan bagaimana sikap seorang tokoh agama yang hidup sederhana yang patut menjadi keteladanan dan contoh bagi para pemimpin di tingkat nasional ataupun global. Membawa pesan kesederhanaan dan perdamaian serta menghargai keberagaman umat.
- Sri Paus Fransiskus berkata Belarasa tidak menggelapkan fisik kehidupan yang sejati, sebaliknya belarasa membuat kita mampu melihat berbagai hal lebih baik dalam terang kasih secara spontan. Kita melihat realitas dengan baik hanya dengan mata hati. Oleh karena itu tolong jangan lupa setan selalu ada di dalam saku!
- Sri Paus Fransiskus berkata “setan selalu ada di dalam saku kita.” Dalam pengertian uang yang memengaruhi orang kalau tidak lagi memiliki hati kasih, maka uang itu akan membuat orang menjadi berlaku seperti setan. Memusuhi orang, mengeruk orang, hanya karena dia mendewa-dewakan uang. Jadi, uang itu ya memang itu menjadi godaan tatkala tidak ada kesediaan untuk berbela rasa, berbagi.
- Sri Paus Fransiskus mengingatkan pada Pemimpin Bangsa atas kemungkinan konflik yang timbul karena memaksakan kehendak Pemimpin untuk kepentingannya sendiri tanpa melihat kesejahteraan masyarakat yang terpinggirkan. Paus Fransiskus juga melihat bahwa kebijakan yang dikeluarkan haruslah berprinsip pada Keadilan sosial.
- Sri Paus Fransiskus berpesan semoga tidak seorang pun yang terjerumus dalam pesona fundamentalisme dan kekerasan, semoga semua orang justru terpesona oleh impian sebuah masyarakat dan kemanusiaan yang bebas, bersaudara dan damai.
- Sri Paus Fransiskus mengajarkan kita untuk selalu lihat sesuatu secara mendalam, karena hanya di sanalah anda dapat menemukan apa yang menjadi persamaan dalam sebuah perbedaan. Pandang secara dalam, pahami apa yang mengalir di kehidupan kita, hasrat yang bersemayam dalam hati kita, maka kita akan menemukan hati kita semua saudara. Kita adalah peziarah dalam perjalanan menuju Allah.
- Umat Katolik Indonesia bersukacita karena dapat melakukan Misa Suci bersama dengan Yang Teramat Mulia Bapa Sri Paus Fransiskus. Umat Katolik di Indonesia adalah bagian penting bangsa ini dalam menjaga persatuan, menyebarkan kasih dan toleransi bersama umat beragama lainnya di Indonesia. Keberagaman adalah kekayaan bangsa dan toleransi merupakan kunci untuk menjaga persatuan serta perdamaian. Selamat menjalankan ibadah Misa Suci, semoga menjadi berkat bagi sesama.
- Sri Paus Fransiskus berpesan : Kuatlah Dalam Iman, Terbuka Dalam Persaudaraan, Bela Rasa. Saya Memberkati Anda, dan Berdoalah untuk saya dengan senang hati. Terima kasih kepada semuanya, Indonesia yang begitu ramah.
Deklarasi bersama Istiqlal 2024,
Meneguhkan Kerukunan Umat Beragama untuk Kemanusiaan.
Seperti yang bisa dilihat dari kejadian beberapa dekade terakhir, dunia kita jelas sedang menghadapi dua krisis serius, dehumanisasi dan perubahan iklim.
Pertama, fenomena global dehumanisasi ditandai terutama dengan meluasnya kekerasan dan konflik, yang seringkali membawa jumlah korban yang mengkhawatirkan.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah, Agama seringkali diperalat, dalam hal ini sehingga mengakibatkan penderitaan bagi banyak orang terutama perempuan anak-anak dan orang lanjut usia. Padahal, peran agama harus mencakup peningkatan dan pemeliharaan martabat setiap kehidupan manusia.
Kedua, eksploitasi manusia atas ciptaan. Rumah kita bersama, telah berkontribusi terhadap perubahan iklim yang menimbulkan berbagai konsekuensi destruktif seperti bencana alam, pemanasan global, dan pola cuaca yang tidak dapat diprediksi.
Krisis lingkungan yang sedang berlangsung ini telah menjadi hambatan bagi kehidupan bersama yang harmonis diantara masyarakat.
Menyikapi kedua krisis tersebut sambil berpedoman pada ajaran agama masing-masing dan mengakui kontribusi dasar dan falsafah negara Pancasila di Indonesia. Kami bersama para pemimpin agama lain yang hadir menyerukan hal-hal sebagai berikut:
Satu, nilai-nilai yang dianut oleh tradisi agama-agama kita harus dimajukan secara efektif untuk mengalahkan budaya kekerasan dan ketidakpedulian yang berada di dunia kita.
Sejatinya, nilai-nilai agama harus diarahkan untuk meningkatkan budaya hormat, martabat, bela rasa, rekonsiliasi, dan solidaritas persaudaraan untuk mengatasi dehumanisasi dan perusakan lingkungan.
Dua, para pemimpin agama khususnya, terinspirasi oleh narasi dan tradisi rohani masing-masing, harus bekerjasama dalam menanggapi krisis-krisis tersebut di atas mengidentifikasi penyebabnya, dan mengambil tindakan yang tepat.
Tiga, oleh karena terdapat satu keluarga umat manusia di seluruh dunia, dialog antarumat beragama harus diakui sebagai sebuah sarana yang efektif untuk menyelesaikan konflik-konflik lokal, regional, dan internasional, terutama konflik-konflik yang dipicu oleh penyalahgunaan agama.
Selain itu, keyakinan dan ritual-ritual agama kita memiliki kapasitas khusus untuk menyentuh hati manusia dengan demikian menumbuhkan rasa hormat yang lebih dalam terhadap martabat manusia.
Empat, menyadari bahwa lingkungan hidup yang sehat, damai dan harmonis sangat penting menjadi hamba Allah dan pemelihara ciptaan yang sejati.
Kami dengan tulus menghimbau semua orang yang berkehendak baik untuk mengambil tindakan tegas guna menjaga keutuhan lingkungan hidup dan sumber dayanya. Karena kita telah mewarisinya dari generasi sebelumnya dan berharap untuk dapat meneruskannya kepada anak cucu kita.
Terima kasih.
Dikutip dari Sumber: https://bimaskatolik.kemenag.go.id/berita/917
***





