
Cerita Singkat Bapak Demson Sianturi Penasehat Perkumpulan Paposma Se Dunia.
Pomparan Raja Simataniari, Ompu Guru Talas, Nomor 16.
Sumber: Akun facebook pribadi atas nama Demson Sianturi.
Selamat pagi, salam sehat dan salam perkenalan buat yang belum pernah mengenal. Nama saya hanya Demson Sianturi walau orang bisa memanggilku dengan panggilan yang berbeda beda pada waktu dan tempat yang berbeda pula.
“UCOK” Adalah panggilan beberapa saat setelah dilahirkan ibuku, Loide Siringoringo 73 tahun, 3 bulan, 4 hari yang lalu di Kampung Paranginan Kecamatan Pane Tonga Kabupaten Simalungun Sumatera Utara. DEMSON nama yang terdaftar resmi di Gereja Greformeerd Sepinggan Panombean saat dipermandikan kudus sesuai ketentuan Gereja yang berlaku secara umum. Nama dan Marga Sianturi tidak terpisah sehingga mendaftar menjadi murid SR Negeri 2 Pematang Pane menggunakan nama Demson Sianturi terhitung mulai Juli 1956. Menggunakan batu le dengan alat tulis grip adalah pengalaman pertama menjadi anak sekolahan. Belum menggunakan buku tulis apalagi pensil dan pulpen adalah barang mewah saat itu.
Pemberontakan PRRI berkobar sejak 1958 dan ada penculikan anak-anak di kampung, memaksa orang tua memindahkan saya bersekolah kelas 4 di SR Negeri 14 Sipinggol-pinggol Pematang Siantar terhitung April 1960. Berlanjut ke SMP Negeri III dan SMA Negeri I dikota yang sama. Walau tahun ajaran biasanya awal Juli setiap tahun namun setelah terjadinya G 30 S PKI tahun 1965, tahun ajaran bergeser menjadi mulai 1 Januari dan berakhir 31 Desember setiap tahunnya. Hal ini mengakibatkan saya selesai dari SMA adalah bulan Desember 1968 dari SMA Negeri I Pematang Siantar.
“LAE…” atau “Sianturi…!” Panggilan ini sepertinya panggilan penghargaan karena saya saat mulai dewasa. Bagi orang batak ada keengganan memanggil nama aslinya kepada seseorang yang sudah mulai berumur dewasa.
“AMANI EVA…” Ini panggilan terhadap diriku disaat anak perempuanku yang pertama sudah lahir dengan nama Eva.
“OMPU KEZIA…” Sejak cucuku yang pertama lahir dari anakku yang perempuan, saya dipanggil Ompu Kezia ini dipakai selama 13 tahun hingga sampai pada kelahiran cucuku dari anakku yang laki-laki, panggilanku menjadi OMPU JOCELYN.
Akhir kata walau panggilan itu banyak : Ucok, Demson, Lae atau Sianturi, Amani Eva, Ompu Kezia dan Ompu Jocelyn namun diriku tetap SATU yaitu saya sendiri. Panggilan ketemu dokter sudah berkumandang. Tulisan sebagai killing the time ini kuakhiri dulu, takut dokternya marah.(*)
