Batara Sianturi pernah memimpin operasi Citi di sejumlah negara. Termasuk menggawangi transformasi bisnis Citi di Indonesia.

Ringkasan Berita
- Batara Sianturi mengecap pendidikan sarjana dan master teknik kimia di Amerika Serikat.
- Karier Batara Sianturi di Citi dari posisi staf hingga menjabat kepala operasi di sejumlah negara.
- Transformasi bisnis Citi Indonesia menjadi tantangan besar bagi Batara Sianturi.
KETEKUNAN dan konsistensi merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Batara Paruhum Sianturi. Betapa tidak, dia meniti karier di Citi—perusahaan perbankan dan jasa keuangan internasional—selama 37 tahun. Dari awal sebagai Management Trainee, pimpinan operasi di sejumlah negara, hingga kembali ke Indonesia sebagai Chief Executive Officer. Dia juga menakhodai perubahan bisnis Citi Indonesia dari berfokus pada consumer banking menjadi institutional banking.
Padahal, jika melihat latar belakang pendidikannya, mungkin tak ada yang menyangka Batara sukses menjadi bankir kelas dunia. Pria kelahiran Jakarta 26 Juni 1960 ini mengecap bangku kuliah sarjana hingga master bidang kimia di Amerika Serikat. Selain itu, dia pernah menempuh pendidikan master administrasi bisnis di Negeri Abang Sam itu. Namun, sekali lagi, kehendak kuat dan konsistensi yang membuat Batara bertahan di industri perbankan. Termasuk ketika menghadapi perubahan. “Reboot yourself, then your counter is reset to zero,” katanya dalam wawancara dengan tim Tempo pada Jumat, 18 Juli 2025.
Dalam catatan karier internasionalnya, Batara Sianturi pernah memimpin operasi Citi di Australia sebagai General Manager of the Overseas Mortgage Businesspada 1995. Sepuluh tahun kemudian dia pindah ke Eropa, menjabat Consumer Business Managerdan Chief Executive Officer Citi Hungaria. Dia juga menjabat Cluster Headyang membawahkan 12 negara Eropa Timur. Pada 2013-2015, dia bertugas di Filipina sebagai CEO sekaligus Cluster Headuntuk kawasan Guam, sebelum pulang kampung untuk memimpin Citi Indonesia.
Di bawah kepemimpinan Batara, Citi Indonesia menjalankan layanan investment banking, corporate banking, commercial banking, transaction banking, market and treasury banking, hingga kustodian. Fokusnya adalah melayani nasabah perusahaan lokal hingga korporasi global yang beroperasi atau berencana masuk ke Indonesia. Di balik transformasi bisnis ini, ada berkah terselubung: Citi Indonesia kian efisien. Salah satunya karena personel layanan institutional banking tak sebanyak consumer banking yang membutuhkan para agen.
Disadur dari sumber: https://www.tempo.co/ekonomi/ceo-citi-indonesia-batara-sianturi-2048548
Kami Ingin Melihat Kemudahan Berinvestasi
Chief Executive Officer Citi Indonesia Batara Paruhum Sianturi mengungkapkan strategi setelah melepas bisnis consumer banking.
Lebih dari tiga dekade, tepatnya 37 tahun, Batara Sinaturi berkarir di Citi, perusahaan layanan perbankan dan jasa keuangan asal Amerika Serikat. Sejak bergabung dengan Citi tahun 1988, ia berdinas di luar negeri 12 tahun. Pada Juni 2015, Batara kembali ke Tanah Air menempati posisi puncak sebagai Chief Executive Officer Citi Indonesia mulai Juni 2015.
Beski telah berkarir selama itu, Batara Sinaturi mengatakan Citi bukan zona nyaman. Menjadi tetap relevan, menurut dia, adalah kata kunci dalam satu perusahaan yang sama. Kemampuan beradaptasi serta kemauan dalam memulai ulang saat terjadi perubahan atau memulai hal baru menjadi hal penting yang harus dilakukan.
Di Indonesia misalnya Batara Sinaturi memimpin transformasi bisnis Citi Indonesia. Pada November 2023, Citi menjual layanan consumer banking ke PT UOB Indonesia. Pwerusahaan ini kemudian berfokus menjadi institutional bank atau bank yang melayani korporasi dan nasabah skala besar.
“How to perform without consumer bank? Reboot your self. Then your counter reset to zero,” kata Batara. Memberi gambaran apa yang dia lakukan. Karena kerap menghadapi tantangan semacam itu. Batara merasa belum lama bekerja di Citi. “Seperti baru terjadi kemarin.”
Setelah menjadi institutional banking, menurut Batara Citi kian efisien, Citi juga makin berfokus melayani banyak lembaga, termasuk investor yang hendak menanamkan modal di Indonesia. Kepada jurnalis tempo, Riri Rahayunigsih, Kodrat Setiawan, serta juru foto Taufan Rengganis, Batara mengungkapkan banyak hal soal Citi Indonesia. Termasuk pandangannya tentang kondisi ekonomi dan iklim investasi saat ini.
Berikut ini petikan wawancara yang berlangsung pada Jumat, 18 Juli 2025, di kantor Citi Indonesia, Pacific Century Place, Jakarta Selatan.
Apa saja yang anda jalankan setelah Citi Indonesia bertransformasi menjadi institutional bank?
Sejak menjual consumer bank pada November 2023, kami sudah 100 persen menjadi institutional bank, memfasilitasi transaksi klien yang mempunyai kebutuhan lintas negara. Sebagai institutional bank, kami berfokus pada layanan investment banking, corporate banking, commercial banking, transaction banking, market & treasury banking, serta kustodian. Kami juga memfasilitasi investasi. Untuk segmen corporate banking, kami berfokus pada bisnis multinasional, selain memfasilitasi korporasi lokal, selain itu kami melayani institusi keuangan dan bekerja sama dengan bank lain.
Seperti apa kinerja Citi Indonesia setelah menjual consumer banking?
Rasio efisiensi kami meningkat, dari 65 persen sejak masih ada consumer banking menjadi 40 persen. Artinya saat menjalankan consumer banking saya harus membelanjakan US$ 65 untuk mendapatkan revenue US$ 100. Sekarang cukup membelanjakan US$40 saja dengan hasil yang sama. Kami melihat ini strategi yang tepat. Sebentar lagi kami akan mengumumkan kinerja pertengahan 2025. “We fell good about it.” Sejauh ini, profit tahun lalu sedah lebih tinggi. Pada 2023, laba bersih Citi sebesar Rp 2,5 triliun, sedangkan pada 2024 mencapai Rp 2,6 triliun. Profitnya sejak masih ada consumer banking relatif kecil karena revenue dan expense sama-sama besar. Ya, karena banyak orang.
Selain efisiensi, apa strategi Citi menakikkan profit?
Dengan dilepasnya consumer bank, kami bisa lebih berfokus dengan keunikan yang membedakan kami dengan bank-bank lain. Kalau dulu, kami punya sekitar 1 juta kartu kredit, bank lain juga punya. Sekarang, katakanlah, kalau ada perusahaan Indonesia berekspansi ke Afrika atau Timur Tengah, bank apa yang akan memfasilitasi? Tidak banyak. Itulah mengapa kami lebih berfokus. Modal kami digunakan dengan lebih baik dan memberikan hasil yang lebih baik.
Apa target anda untuk tahun depan?
Kami selalu ingin memastikan untuk bertumbuh dalam target pasar kami. Kembali lagi kalau ekonominya bagus, kami melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5 persen. Pendorong pertumbuhan Citi adalah bisnis multinasional, menyumbang sekitar 60 persen dari total pendapatan. Jadi, kami berharap Indonesia terus menjadi destinasi investasi yang menarik. Dengan berakhirnya negosiasi tarif dengan Amerika Serikat, kami berharap ada peningkatan yang signifikan dalam aliran bisnis dari koridor Amerika. Kami juga mengharap mereka tidak berinvestasi ke negara lain seperti Thailand atau Malaysia, karena Indonesia sebenarnya kompetitif.
Seperti apa anda melihat tantangan yang dihadapi Indonesia?
Saya melihat tantangan dari feedback para klien.Ketika mereka yang ingin berinvestasi mengatakan, “How can you help?” Karena misalnya urusan ijin sudah setahun, lama sekali. Kami tahu, ada ijin, lisensi dan segala macam. Jadi kami selalu memberikan feedback kepada instansi terkait. Misalnya, ini perusahaan Amerika ingin pabriknya bisa grand opening. Atau kami sampaikan ada perusahaan Korea, klien besar mau berinvestasi, pabriknya di Bekasi atau dimana, tolong dibantu. Kami ingin melihat kemudahan untuk berinvestasi. Kalau pembahasan tarif bisa membuat perusahaan-perusahaan lebih mudah masuk dan berinvestasi ke Indonesia, itu hal yang sangat baik.
Bagaimana pandangan Citi terhadap Indonesia dibanding negara lain?
Indonesia is very important country. Indonesia adalah anggota G20. Kalau kita lihat gross domestic bruto Indonesia, sekitar US$ 1,5 triliun, dua hingga tiga kali lebih besar dibanding Thailand, Singapore dan Malaysia. Mereka sekitar US$ 500. Dengan Indonesia sebagai anggota G20, memiliki GDP besar, jumlah populasi besar, tidak ada masalah fertility rate, ada harapan besar. Tugas kami adalah terus membawa lebih banyak inovasi dan internasionalisasi ke sektor perbankan.
Apa yang membuat anda optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa 5 persen?
Saya melihat dari GDP Indonesia, kontribusi dari konsumsi sudah 60 persen. Kemudian investasi sekitar 25 persen. Sisanya ekspor – impor dan belanja pemerintah. Semuanya penting, tapi kalau konsumsi sudah sedemikian besar, mau disuruh naik sekaligus dua digit akan susah. Ekspor – impor, neraca perdangan kita surplus, bagus. Tapi kita bukan negara eksportir besar seperti Thailand, Vietnam atau Cina. Negara pengekspor itu bagus, tapi sekali terimbas kondisi ekonomi, situasi akan menjadi berat. Jadi harapan terbesar sebenarnya di investasi yang harus tumbuh dua digit. Harus ada terobosan, misalnya dengan kemudahan berbisnis.
Anda melihat peluang apa soal investasi di Indonesia?
Mudah-mudahan dengan kesepakatan tarif dengan Amerika akan tercipta investasi dua arah. Amerika tentu ingin ivestasi masuk ke negaranya, kita juga ingin investasi Amerika masuk ke Indonesia. Kita harus bisa menjelaskan mengapa Indonesia penting bagi Amerika, juga sebaliknya. Menurut saya ini harus menjadi situasi yang menguntungkan. Dan itulah pekerjaan besarnya.
Apa tanggapan anda terkait net interrest margin (NIM) perbankan di Indonesia yang masih tinggi? Ada bank yang 7 persen, sedangkan ASEAN dibawah 4 persen…
Betul. Mungkin ada dua sisi, dianggap tinggi tapi beberapa investor juga merasa ini market yang bagus. Kami juga melihat bank-bank internasional masuk ke Indonesia karena peluangnya besar, populasinya besar. Kami melihat bahwa risk premium Indonesia akan makin bagus, sehingga NIM juga akan makin turun.
Disadur dari sumber: https://www.tempo.co/ekonomi/wawancara-ceo-citi-indonesia-2048545




























