BATARA PARUHUM SIANTURI

Ket. Gambar: Foto Ketua Paposma Se Dunia – Bapak Batara Sianturi dan Inang Debbie br. Tampubolon duduk seusai dibulang-bulangi pada acara puncak pesta sepuluh tahunan ketujuh, tanggal 23 juni 2024 di Bona Pasogit. (Sumber: Dok. Paposma Se Dunia).

BIODATA BATARA PARUHUM SIANTURI – KETUA PAPOSMA SE DUNIA

Biodata yang kami sajikan berikut ini adalah Ketua Perkumpulan Parsadaan Pomparan Raja Simataniari Sianturi Boru dohot Berena Se Dunia (PAPOSMA SE-DUNIA) Periode 2021 – 2026 yaitu Bapak Batara Sianturi. Data berikut bersumber dari berbagai sumber referensi informasi publik yang berhasil kami himpun sebagai berikut dibawah ini:

  • Nama lengkap: Batara Paruhum Sianturi BSc.,MSc.,MBA (Bpk. Naomi)
  • Jabatan: Ketua Paposma Se Dunia.
  • Tempat/Tanggal lahir: Jakarta, Minggu, 26 Juni 1960
  • Istri: Debbie Tampubolon (Mama Naomi)
  • Anak:
    1. Josua Sianturi
    2. Samuel Sianturi
    3. Naomi br. Sianturi
  • Ayah: Ev. Dr Talas Talas Sianturi (Ompu Naomi)
  • Ibu: Meis Tiurma boru Siahaan (Ompu Naomi Boru)
  • Saudara/i kandung:
    1. Banua Parluhutan Sianturi (adik) / Vera br. Silalahi
    2. Dewi Nirmala br. Sianturi menikah dengan Bintang Charles Hamonangan Simangunsong
    3. Deborah Berliana br. Sianturi menikah dengan Matteo Leone Bormenti
  • Ompung doli: Melanthon Sianturi (Ompu Batara)
  • Ompung boru: Nunia boru Simanjuntak (Ompu Batara Boru)
  • Ompung mangulaki: Sintua Ruben Sianturi.
  • Ompung mangulaki Boru: Bilha boru Lumban Tobing
  • Pomparan dari Ompu: Guru Talas, Raja Ihutan nomor sundut 17

PENDIDIKAN

  • Bachelor of Science, Chemical Engineering, Case Western Reserve University
  • Bachelor of Science, Macromolecular Science, Case Western Reserve University
  • Master of Chemical Engineering, Stevens Institute of Technology, 1984
  • Master of Business Admiinistration, Finance, St. John’s University, 1988.

KARIER

Juni 2015 – sekarang: CEO Citi Indonesia.

1988-2015:

  • Management Associate Consumer Banking Citibank Indonesia
  • Management trainee di Citigroup
  • Analisis Riset di Polymer Processing Institute, Hoboken, AS
  • Vice President Citigroup
  • General Manager Overseas Mortgage Citi Australia
  • Direktur Keuangan Citibank Indonesia
  • Direktur Retail Banking Citibank Indonesia
  • Direktur Country Distribution & Sales Citibank Indonesia
  • Direktur Country Marketing Citibank Indonesia
  • Citi Country Officer Hungaria serta Cluster Head bagi 12 negara lain di Eropa Timur.
  • Citi Country Officer Filipina serta Cluster Head untuk Filipina dan Guam
  • Citi Country Officer & Country Head untuk Citi Indonesia

ORGANISASI

  • Ketua Perhimpunan Bank-bank Internasional Indonesia (Perbina).
  • Wakil Ketua US-Asean Business Council.
  • Pengurus Kadin Amerika-Indonesia.
  • Anggota Dewan Direksi Kadin Amerika (Amcham)-Filipina.
  • Anggota Dewan Penasihat Internasional IPMI International Business School.

ORGANISASI SOSIAL

  • Pendiri & Ketua dari Perkumpulan Parsadaan Pomparan Raja Simataniari Sianturi Boru dohot Berena Se Dunia (PAPOSMA SE-DUNIA) Periode 2021 – 2026.
  • Tahun 2019 s/d 2021 – Wakil Ketua Panitia Pesta Partangiangan Jubileum 100 Tahun Tugu Raja Simataniari Sianturi Lobutolong 2021.
  • Tahun 2019 s/d 2021 – Sebagai penerima mandat atas pendelegasian dari Punguan Simatupang Sianturi Simataniari Boru dohot Bere (PS3BB) Sejabodetabek sebagai perwakilan punguan untuk pengumpulan data Tarombo / Silsilah / Sejarah Marga Simatupang Sianturi dan yang berkaitan dengan sejarah marga.
  • Tahun 2019 s/d 2024 – Wakil Dewan Pakar Sianturi Simataniari Se Jabodetabek.
  • Wakil Ketua Panitia Pesta Bonataon 2019 Sianturi Simataniari Se Jabodetabek.

PENGHARGAAN

  • Tahun 2023 – Penerima tongkat tunggal panaluan dan menjadi anak sibulang-bulangan dari Pomparan Raja Simataniari Sianturi Boru dohot Berena Se Dunia.
Ket. Gambar: Foto Ketua Paposma Se Dunia – Bapak Batara Sianturi dengan tongkat tunggal panaluan ditangan seusai dibulang-bulangi pada acara puncak pesta sepuluh tahunan ketujuh, tanggal 23 juni 2024 di Bona Pasogit. (Sumber: Dok. Paposma Se Dunia).

Perjalanan Karier Profesional (Bankir) Bapak Batara Paruhum Sianturi

Bapak Batara Paruhum Sianturi merupakan bankir Indonesia pertama yang berhasil mengukir sejarah masuk dalam jajaran direksi perbankan luar negeri. Pria yang mempunyai empat gelar kesarjanaan dari beberapa universitas ternama Amerika Serikat ini mengawali karirnya di dunia perbankan sebagai Management trainee Citigroup Indonesia pada 1988. Hanya berselang empat tahun kemudian, karir Sianturi melambung setelah resmi diangkat sebagai Direktur Keuangan dan, dua tahun kemudian, sebagai Vice President korporasi perbankan yang berbasis di kota New York.

Fasih berbahasa Inggris dan Prancis, bankir kelahiran 1960 ini semakin mengokohkan karir internasionalnya setelah menjadi wakil Citigroup Indonesia yang bertugas sebagai General Cross Border Mortgage di Australia. Sianturi memikul tanggung jawab besar untuk memajukan pasar properti, khususnya perumahan, untuk wilayah Singapura, Hong Kong dan Indonesia.

Sukses melaksanakan tugas tersebut, membuat bankir kelahiran kota Jakarta ini semakin memperoleh kepercayaan untuk menjabat berbagai posisi penting dalam perusahaan seperti Direktur Keuangan, Direktur Retail Banking serta Direktur Country Distribution dan Sales Citibank Indonesia. Pada 2004-2005, Bapak Batara Paruhum Sianturi banyak dipercaya memangku posisi strategis, sebagai Direktur Country Marketing sebelum akhirnya dilantik sebagai salah satu CEO untuk Citibank Hungaria. Kemudian Citi Indonesia menunjuk Bapak Batara Paruhum Sianturi sebagai Citi Country Officer (CCO) dan Country Head untuk menggantikan Tigor M. Siahaan yang telah memimpin perusahaan sejak 2011.

Selain 34 tahun loyalitas yang ditunjukkan Bapak Batara Paruhum Sianturi pada perusahaan, ayah tiga anak ini juga memiliki sederet sumbangan prestasi yang mengagumkan. Kinerjanya berhasil memacu peningkatan jaringan dan distribusi Citibank lebih dari 10 kali lipat serta meningkatkan bisnis Gold Wealth Management Citibank Indonesia menjadi dua kali lipat.  Baginya, kepuasan dalam menjalani hidup dan karier adalah membangun bisnis dan timnya.

Dia mengaku punya kebanggaan tersendiri apabila melihat anak buahnya maju, apalagi bisa menggantikan posisinya. Menurut Batara, sebagai pemimpin, salah satu tugas yang harus dijalankan dengan baik adalah membangun pemimpin baru. Tentunya, puncak karir dalam jajaran Direksi Citibank Zrt Hungaria tersebut juga merupakan hasil kerja keras dan disiplin yang sudah dipupuk sejak usia remaja.

Sumber informasi terkait Tahun 2016 yang lalu yang diambil dari link: https://infobanknews.com/batara-sianturi-bahasa-hati-global-banker/

Baca juga: Memenuhi 100% Panggilan Hidup

Aktifitas Bapak Batara Paruhum Sianturi dalam Sosial Marga:

Seperti sederet capaian prestasi yang mengagumkan dari sejak menempuh Pendidikan dan kemudian dalam dunia perbankan yang cemerlang, demikian juga didalam kehidupan sosial marga yang disandangnya yaitu Marga Sianturi. Seperti yang pernah disebutkannya dalam suatu kesempatan;

“Tugas seorang pemimpin tidak hanya memberi visi dan misi, tetapi harus mau mendengar, melayani, berkorban dan menjadi panutan, jadi apabila sudah menerima tanggungjawab, berarti siap dengan hal tersebut.” Batara Sianturi.

Banyak hal yang sudah beliau lakukan sebelum dan sesudah beliau menjadi Ketua Perkumpulan Parsadaan Pomparan Raja Simataniari Sianturi Boru dohot Berena Se Dunia Periode 2021-2026. Salah satu yang sudah mulai terlihat hasilnya yaitu; Membawa Sianturi Simataniari masuk ke era digital dengan membangun website http://sianturisimataniari.com/.

Foto: Batara P. Sianturi – Bapak Ketua Paposma Se Dunia bersama istri ibu Debbie br. Tampubolon
(Sumber foto: Dok. Paposma Se Dunia).

Bapak Batara Paruhum Sianturi adalah Ketua Perkumpulan Parsadaan Pomparan Raja Simataniari Sianturi Boru dohot Berena Se Dunia (PAPOSMA SE DUNIA). Beliau juga termasuk penggagas utama proses berdirinya perkumpulan sejak tahun 2021 yang lalu.

Beliau terpilih secara aklamasi dalam proses pemilihan dengan Virtual Zoom pada hari minggu, tanggal 21 maret 2021, rapat tersebut sah dan memenuhi quorum karena jumlah kehadiran mencapai 99 % (Sembilan puluh Sembilan Persen) dari 100 % (Seratus Persen) karena didukung dari 30 Wilayah Indonesia dan 2 perwakilan luar negeri dengan jumlah 174 (Seratus Tujuh Puluh Empat) peserta terdaftar, mewakili pomparan ni Raja Simataniari Sianturi (Baginda Malim dan Tunggul Ni Dolok).

TAROMBO

Secara singkat bahwa Bapak Batara Paruhum Sianturi Sundut 17 (Pomparan Raja Simataniari; Baginda Malim; Datu Ronggur; Guru Talas; Raja Ihutan).

Bahasa Hati Global Banker

Dia bankir Indonesia pertama yang dipercaya masuk jajaran country head. Bankir dengan empat disiplin ilmu berbeda yang diraihnya dengan pujian. Darto Wiryosukarto

MENIKMATI afternoon tea time di ketinggian 26,60 meter, dengan pemandangan Senayan Golf Driving Range dan kepadatan lalu lintas sore di Jalan Sudirman, Jakarta, mungkin hal biasa. Menjadi luar biasa ketika semua itu dinikmati bersama Batara Paruhum Sianturi, Citi Country Officer & Country Head for Citi Indonesia. Dan, pada sore yang hangat di Citibank Tower 7th Sudirman, Jumat, 20 November 2015, Infobank mendapat kesempatan istimewa itu.

Batara bukan bankir biasa. Dia bankir Indonesia pertama yang menjadi country head dalam sejarah Citigroup. Bukan sembarang bank, melainkan big bank group dengan aset US$1.843 miliar yang berdiri sejak 1812 di New York City dan tersebar di lebih dari 700 kota besar di 101 negara. Selama lebih kurang dua jam, banyak value yang di-share Batara dari perjalanan karier globalnya selama 27 tahun di Citibank Group.

Pria kelahiran Jakarta, 16 Juni 1960, ini memulai perjalanan kariernya sebagai global banker setelah ditunjuk menjadi general manager di Citibank Australia pada 1995. Saat itu dia sudah tujuh tahun berkarier di Citibank Indonesia dengan jabatan terakhir chief financial officer (CFO) di consumer banking. Hanya satu tahun sembilan bulan Batara bertugas di Negeri Kanguru itu. Menjelang akhir 1996, ia kembali ke Indonesia.

Hampir 10 tahun Batara menapaki karier di Citibank Indonesia sepulangnya dari Australia. Beberapa jabatan pernah diembannya, mulai dari retail branch director pada 1997 hingga marketing director pada 2005. Sebagai Citibanker, Batara dididik menjadi bankir dengan orientasi global. Makanya, dia mencoba untuk menjajal di negara lain.

Awalnya Batara ingin mencoba kawasan Asia, tapi pada tahun itu belum ada posisi yang cocok. “Saya kemudian minta izin untuk nyebrang ke region lain,” ujarnya kepada Karnoto Mohamad, Darto Wiryosukarto, Pujo Wibowo, dan Erman Subekti (fotografer) dari Infobank, pada November 2015.

Citibank Hungaria menjadi tempat berlabuh Batara di tahun 2005, dan dua tahun kemudian Batara ditunjuk sebagai Citi country officer & country head. “It’s my first Country Head position,” tegasnya. Tak hanya membawahkan Hungaria, Batara juga meng-handle kantor Citibank di 12 negara lain yang masih di kawasan Eropa Timur, yakni Serbia, Montenegro, Bosnia, Makedonia, Albania, Kroasia, Slovenia, Estonia, Lituania, Latvia, Belarus, dan Moldova.

Setelah delapan tahun di Citibank Hungaria, Batara hijrah ke Citibank Filipina pada 2013. Meski hanya meng-handle satu negara, secara skala ekonomi, jumlah nasabah, dan tanggung jawab lebih besar. “Seingat saya, di Hungaria PDB/GDP-nya US$130 miliar, Filipina US$275 miliar. Lebih besar di Filipina dan lebih kompleks bisnisnya,” ungkap suami Debbie dan ayah Naomi, Joshua, dan Samuel ini.

Pada pertengahan 2015 Batara mendapat kepercayaan untuk mengendalikan Citibank Indonesia, persis pada pengujung tahun dibukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Ini merupakan kepercayaan besar dari shareholder Citibank. Sebab, pada MEA nanti Indonesia akan menjadi pasar utama dengan besarnya potensi market yang ada. Tak sekadar market, challenge yang harus dihadapi Citibank dan bank lain pun makin besar.

Challenge lebih besar karena Indonesia is a big country and one the biggest countries in ASEAN. Tentu pergulatannya akan lebih seru. After ten years working abroad, now it’s time for me to contribute back to my country and I’ll do my very best to give the most impact in Indonesia. Pengalaman saya 12 tahun sebagai global banker dapat saya manfaatkan untuk kebaikan dan kemajuan industri perbankan tanah air. Hal-hal yang bagus dari luar Indonesia bisa di-adopt di sini, sebaliknya apa yang baik di Indonesia juga banyak yang bisa diekspor untuk kolega saya di Eropa Timur,” papar pria bertubuh atletis yang menjaga kebugaran tubuhnya dengan rutin berolahraga lari ini.

Bagi Batara, mengukir karier tak semudah membalik telapak tangan. Beruntung, Batara memiliki disiplin tinggi dan ketekunan luar biasa. Dalam hal pendidikan, misalnya. Batara menyelesaikan dua disiplin ilmu yang berbeda dan dua-duanya lulus dengan pujian di Case Western Reserve University, Cleveland. Ia mengambil program Bachelor of Science-Chemical Engineering dan Bachelor of Science-Polymer Science. Batara masuk pada September 1979 dan lulus per Mei 1983.

Saat mengambil program master of engineering-chemical di Stevens Institute of Technology, Hoboken, NJ, USA (1983-1984), dan program M.B.A. di St. John’s University, New York, USA (1986-1988), Batara juga lulus dengan pujian. Sementara, program doktoral program chemical engineering dia sempat ikuti di Polytechnic Institute of New York, New York, USA (1985-1986). Selain itu, Batara mengikuti pendidikan singkat di Stanford University (1980), Harvard University (1981), dan Columbia University (1982).

Sejak awal, Batara sebetulnya bercita-cita menjadi chemical engineer. Dari sembilan tahun belajar di Amerika, tujuh tahun di antaranya untuk mempelajari chemical engineering. Namun, pada dua tahun terakhir dia belajar finance. “That’s what I learned while pursuing M.B.A., and I like banking until now,” akunya.

Pilihan Batara berkarier di dunia perbankan tak salah. Di industri ini kariernya melesat bak anak panah. Apa yang menjadi pegangan Batara dalam berkarier? “Do your best, because when you do your best, people will recognize and appreciate it. And then be passionate. You should have passion. Orang bilang, kenapa Anda sudah jam lima, jam enam, masih happy saja bekerja. Because, I love my job, I’m very passionate about it,” tuturnya.

Ada satu hal yang menarik dari sosok Batara, yakni caranya dalam berkomunikasi dengan orang lain. Saat di Hungaria, misalnya, dia menyisihkan waktunya yang padat untuk kursus bahasa setempat. Pun saat di Filipina, dia meluangkan waktu dua jam pada setiap Sabtu untuk belajar bahasa Tagalog. Hal itu ia lakukan agar bisa berkomunikasi dengan masyarakat setempat. Dengan menguasai bahasa setempat, dia bisa mendapatkan hal lebih. “By learning the language, you understand the culture, you win the heart of your people, and you become a better leader. There is a saying that one needs to touch the heart before one ask for a hand. Seseorang harus menyentuh hati dahulu baru kemudian meminta bantuan. Yang penting kan hati,” ujarnya. (*)

“By learning the language, you understand the culture, you win the heart of your people, and you become a better leader.”
BATARA SIANTURI.

Sumber: https://infobanknews.com/batara-sianturi-bahasa-hati-global-banker/

interview tahun 2018 yang disadur dari Men’s Obsession

Batara Sianturi, Memberikan Dedikasi & Legacy Terbaik

Naskah: Elly Simanjuntak Foto: Fikar Azmy & Dok. Citi Indonesia

Porfolio kredit meningkat 19% year on year menjadi Rp47,5 triliun, didorong pertumbuhan pada lini bisnis institutional banking. Kenaikan kredit ini ditunjang momentum pertumbuhan yang kuat di dana pihak ketiga (DPK) sebesar 15%.

Tak terasa sudah 50 tahun Citi Indonesia memberikan pelayanan maupun dedikasinya kepada masyarakat di Tanah Air. Termasuk berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia dan memajukan industri keuangan nasional. Citi sudah hadir di sini sejak tahun 1968. Bersama dengan sekitar 3000 karyawan serta 10 cabang di 6 kota di Indonesia, Citi dengan setia menyediakan berbagai layanan perbankan harian, korporasi, maupun investasi untuk para nasabah. Adalah Batara Sianturi sosok pemimpin di balik kesuksesan Citi Indonesia yang berperan sebagai CEO sejak pertengahan tahun 2015.

Peraih Master of Chemical Engineering dari Steven’s Institute of Technology dan Master of Business Administration in Finance dari St. John’s University ini mengawali kariernya di dunia perbankan sebagai Management Associate pada tahun 1988. Dia kemudian ditugaskan sebagai general manager-overseas mortgage Citibank Australia dengan tanggung jawab memajukan pasar pembiayaan properti di wilayah Singapura, Hong Kong, dan Indonesia. Loyalitas plus kemampuan yang mumpuni membuatnya dipercaya memegang posisi tertinggi sebagai CEO.

Dia pernah mengukir sejarah terpilih dalam jajaran direksi perbankan luar negeri karena termasuk pria Indonesia pertama yang diangkat sebagai CEO Citibank Hungary, sekaligus regional head Citibank Hungary and the Balkan & Baltic Regions (12 negara di Eastern Europe). Kemudian, berlanjut sebagai CEO Citibank Philippines and regional head Citibank Philippines and Guam, hingga akhirnya diminta kembali ke Tanah Air memimpin Citibank Indonesia.

“Menurut saya tidak semua orang mau pindah bekerja ke luar negeri dengan membawa istri dan anak-anaknya yang masih kecil. Namun, saya merasa orang Indonesia itu sebenarnya mampu menjadi pemimpin perusahaan di negara lain. Sewaktu saya diminta kembali ke sini, saya datang membawa misi untuk membagikan pengalaman selama bekerja di luar negeri kepada para karyawan dan orang lain yang membutuhkannya,” ungkap Ketua Perhimpunan Bank-bank International Indonesia (PERBINA) dan salah satu Board of Governors American Chamber of Commerce (AmCham) Indonesia serta Vice Chairman of US-ASEAN Business Council (USABC) ini dengan nada bersemangat.

Karier bankir yang fasih berbahasa Perancis dan pernah menjadi Board of Director American Chamber of Commerce and Industry (AMCHAM) Philippines tersebut memang termasuk membanggakan. Tak terasa sudah 30 tahun, dia mengabdi di Citibank dengan masa kerja 12 tahun dihabiskan di luar negeri dan sisanya 18 tahun di Tanah Air. Pengalamannya di bidang retail marketing, finance country and regional management di berbagai negara membuatnya menjadi pemimpin yang tangguh dalam berbagai situasi ekonomi apapun.

“Seiring dengan perkembangan zaman dan di tengah situasi ekonomi sekarang ini, Citi Indonesia memilih strategi kembali ke basic. Tidak ingin berinvestasi atau terlibat dengan hal-hal bersifat nonbanking. Lalu, lebih spesifik fokus sesuai kemampuannya di bidang perbankan. Tidak berambisi menjadi yang terbesar, tapi selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik dalam dua lini bisnis utama kami, yaitu Global Consumer Banking (GCB) dan Institutional Clients Group (ICG). Simpler, smaller, stronger, dan safer, itu jauh lebih penting bagi kami sebagai bank berskala global. Syukurlah selama 50 tahun keberadaan Citi di Indonesia, kami berhasil membuat kemajuan yang signifikan,” ujar ayah dari satu putri dan dua putra ini serius.

Bank asing yang berpusat di New York, Amerika ini terus berkomitmen mendukung pertumbuhan Indonesia sebagaimana ditunjukkan dengan pertumbuhan kredit year-on-year yang mencapai double digit. Memiliki neraca yang kokoh dengan tingkat permodalan yang sangat memadai dan likuid. Perusahaan dalam posisi yang baik konsisten mendukung aspirasi pertumbuhan nasabah, sekaligus memperdalam hubungan jangka panjang dengan mereka. Batara menerangkan, “Kami membukukan laba bersih sebesar Rp835 miliar di semester pertama 2018, serta pertumbuhan yang baik pada kredit yang diberikan dan Dana Pihak Ketiga atau DPK. Porfolio kredit meningkat 19% year-on-year menjadi Rp47,5 triliun, didorong pertumbuhan pada lini bisnis Institutional Banking. Kenaikan kredit ini ditunjang momentum pertumbuhan yang kuat di Dana Pihak Ketiga atau DPK sebesar 15% yang memungkinkan bank untuk mempertahankan rasio Lending-to-Fund (RIM) yang solid, yaitu sebesar 77,7%.”

Selain mencatatkan pertumbuhan aset yang tinggi, tingkat permodalan dan kualitas aset bank tetap terjaga, dengan rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) sebesar 24,05%, rasio Non Performing Loan bruto maupun netto masingmasing sebesar 2,34% dan 0,92%. Di lini Institutional Banking, Citi Treasury and Trade Solutions (TTS) mencatat pertumbuhan yang kuat. TTS pun menyediakan layanan perlindungan penipuan, guna mencegah penggunaan commercial/corporate card secara tidak sah pada saat melakukan transaksi secara online. 

Sementara, dalam lini bisnis Consumer Banking, perusahaan ini sukses menyelenggarakan kampanye digital berjudul #MaafJadiManfaat guna menggalang 5000 seragam sekolah bagi siswa yang kurang mampu di Indonesia. Melalui kampanye tersebut, netizen dan para nasabah diajak untuk membagikan video #MaafJadiManfaat di laman facebook Citi Indonesia. Pada ranah Digital Banking, lebih dari 55% dari total nasabah telah mendaftar ke Internet Banking (Citibank Online) dan Mobile Banking (Citi Mobile). Khususnya, untuk Mobile Banking, pengguna Citi Mobile telah meningkat secara signifikan sebesar 70% year-on-year hingga Juni 2018. Penetrasi e-statement Citibank Indonesia juga tinggi, mencapai hampir 83%, hingga menjadi sebagai salah satu yang tertinggi di wilayah Asia Pasifik. Lalu, dari sisi Retail Banking, Citigold mengadakan Citigold Intergeneration Succesor Program khusus bagi generasi penerus nasabah ini.

Sebagai seorang leader, pria yang termasuk salah satu Most Admired CEOs di Indonesia dari majalah Warta Ekonomi ini sudah mengalami ‘asam garam’ kehidupan berkarier. Tantangan dan kendala memang tak bisa lepas dari kehidupan manusia, termasuk urusan pekerjaan. Ini semua menjadi pelajaran berharga bagi dirinya untuk bisa menjadi pemimpin yang mumpuni, sekaligus bijaksana. Ketika ditanya apakah kiat suksesnya selama ini, dia berkata, “Sebenarnya sederhana, ya. Pertama, memang kita harus smart dan menjadi yang terbaik. Sifat kompetensi sebagai basic mesti dimiliki. Tapi, agar kita menjadi berbeda dengan lainnya, ternyata Emotional Intelligence atau EQ berperan besar membuat seberapa tinggi karier kita nanti. Seperti ada pepatah mengatakan: ‘It’s not about your aptitude atau IQ, but it’s about your attitude or EQ, which will determine your altitude.’ Jadi, cara kita bersikaplah yang harus dijaga dalam bekerja, baik kepada atasan, bawahan, maupun partner bisnis. Batara berpendapat, mereka yang sukses adalah orang-orang yang antara lain memiliki interpersonal skill sangat bagus. 

Lelaki yang mendapat empat gelar sarjana, dua bachelor dan dua master dari beberapa universitas ternama Amerika ini melanjutkan, “Produk bancasurrance terbaru dalam Wealth Management, yaitu Prosper Plan Assurance telah diperkenalkan dan diharapkan dapat membantu para nasabah memenuhi tujuan keuangan mereka, melalui peluang diversifikasi wealth management yang lebih besar. Lebih lanjut, Citibank meningkatkan wealth management digital advisory agar para klien bisa mendapatkan berita terbaik mengenai kondisi pasar untuk pengambilan keputusan investasi yang lebih baik.” Dalam hal kartu kredit, Citibank Indonesia dan Garuda Indonesia memperkuat kerja sama dengan memperkenalkan kampanye ‘Bring More Home’.

Melalui kampanye ini, pemegang kartu Garuda Indonesia Citi Card (GICC) dapat menikmati ekstra 20kg bagasi tambahan di atas ketentuan bagasi yang terdapat saat ini di kelas ekonomi dan bisnis. Selanjutnya, Citibank dan Telkomsel semakin memperkuat kerja sama dengan memperkenalkan kampanye ‘Live Large’. Nasabah kartu Citi Telkomsel dapat menikmati tambahan data hingga 20GB untuk meningkatkan gaya hidup digital mereka. Dengan misi ‘Be the Best for Our Clients’, Citibank juga menjangkau komunitas-komunitas di wilayah Citibank beroperasi. Melalui Citi PeKa (Peduli dan Berkarya) yang merupakan payung dari seluruh kegiatan sosial kemasyarakatan, diselenggarakan berbagai inisiatif kegiatan sosial sesuai fokus pada CSR-nya: literasi dan inklusi finansial, pemberdayaan ekonomi bagi generasi muda, serta pengusaha mikro. 

Sebagai bank berskala global yang beroperasi di lebih dari 160 negara dan yurisdiksi, kinerja Citibank Indonesia pada semester pertama 2018 diperkuat dengan berbagai penghargaan dan pengakuan dari beragam publikasi dalam skala global, regional, dan nasional. Secara total di semester I 2018, Citibank Indonesia meraih beragam penghargaan antara lain: Best International Bank in Indonesia dari Finance Asia, Best BankGlobal in Indonesia, Best Bond AdviserGlobal in Indonesia, dan Best Digital Bank in Indonesia. Termasuk, Best Retail Mobile Banking Experience dari majalah the Asset, Digital Banking Initiative of the Year dari Asian Banking and Finance, serta Innovative Company in Digital Services dalam kategori Foreign Bank dari Warta Ekonomi.

“Memberikan yang terbaik dari Citi kepada klien akan selalu menjadi komitmen semua karyawan di Citibank. Buat saya sendiri yang paling penting dalam sebuah perusahaan agar dapat berhasil mencapai target diperlukan adanya team work yang baik. Kita memang suka kepada sosok superstar, tapi saya lebih memilih winning team. Karena buat apa kita memiliki banyak superstar di perusahaan, tapi timya tidak solid. Memiliki jiwa winning spirit dan sikap positif akan membuat perusahaan lebih mudah maju secara bersama-sama,” tambah pria humble tersebut dengan optimis.

BEKERJA DENGAN “HATI”

Membuat janji wawancara dan pemotretan khusus dengan bos tertinggi di Citi Indonesia ini bukanlah hal yang mudah. Namun, Men’s Obsession akhirnya bisa menghampiri Batara di tengah kepadatan waktunya di pagi dan siang hari yang penuh agenda meeting panjang bersama para stafnya. Dengan tampilan profesional kami diterima di lantai 9 Citibank Tower Pacific Century Place, kantornya yang baru di area SCBD Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta. Dia segera ‘beraksi’ untuk mendapatkan hasil foto terbaik dan dilanjutkan dengan wawancara untuk menggali kisah suksesnya yang berani ‘terbang jauh’ menjadi CEO Citibank di berbagai negara. Hingga akhirnya kembali ke Tanah Air, meneruskan dedikasinya sebagai bankir yang tangguh, memberikan legacy terbaik, sekaligus mencetak kader-kader yang mumpuni agar roda bisnis perusahaan tetap bisa berputar dengan baik.

Poin-poin penting dan keberhasilan apakah yang berhasil disumbangkan Citi Indonesia, setelah 50 tahun eksis menancapkan bisnisnya di sini?

Saya rasa kalau kita melihat 50 tahun ke belakang, Citibank telah hadir di indonesia sejak tahun 1968, kami bisa menyimpulkan dua hal penting yang menjadi kontribusi kami. Pertama adalah mengenai talent, sebagai institusi perbankan Citi Indonesia berhasil mencetak bankir-bankir handal selama 50 tahun berada di sini yang sekarang sudah banyak kerja dalam dunia profesional baik di perbankan, berbagai perusahaan swasta maupun pemerintah. Kedua mengenai innovation. Ini adalah DNA dari Citibank dan selama 50 tahun telah memberikan banyak inovasi baik di ranah Institutional Banking maupun Consumer Banking. Dalam bentuk transactional banking ataupun digital banking, ATM, kartu kredit, beragam inovasi terobosan baru akan terus hadir secara berkelanjutan tidak hanya berhenti sampai sekarang, tetapi juga hingga 50 tahun yang akan datang.

Dari sisi leadership dan management, strategi seperti apakah yang kemudian Bapak terapkan selama memimpin perusahaan ini sejak pertengahan tahun 2015 lalu hingga sekarang?

Waktu berjalan demikian cepatnya, tahun ini saya telah 30 tahun mengabdi di Citibank dan perusahaan kami yang beroperasi di lebih dari 160 negara dan yurisdiksi, sebetulnya memberikan banyak sekali kesempatan kepada para karyawan untuk meningkatkan karier ke jenjang lebih tinggi. Selama 18 tahun saya telah berkarya di Tanah Air dan 12 tahun dihabiskan di Citibank luar negeri, yakni Australia, Hungaria, dan Filipina. Pengalaman berharga tersebut telah memberikan saya pemahaman dan wawasan yang lebih luas lagi, mengenai dunia perbankan secara global. Saya sebagai CEO Citi Indonesia berkeinginan men-transfer dan memberikan kontribusi terhadap dunia perbankan Tanah Air, termasuk generasi muda baik dalam bentuk pengetahuan global banking, solusi, dan inovasi.

Bagaimana bapak bisa sampai dipercaya menjadi CEO Citibank di berbagai negara di luar negeri?

Selagi muda kita harus memiliki passion dan mimpi besar, sebab secara fisik masih enerjik atau kuat. Selain itu juga membuat kehidupan kita jadi tidak membosankan. Misalnya, saya sudah bekerja 30 tahun di Citibank, mengapa tidak merasa bosan? Karena, saya berpindah-pindah posisi kerja dari satu negara ke negara lain, dari Indonesia ke Australia, kembali ke Indonesia lalu diminta ke Hungaria, kemudian Filipina. Ini merupakan tantangan menarik dan baru untuk saya. Citibank yang sudah mendunia bisa kita manfaatkan untuk mendapatkan peluang bekerja di berbagai negara, sehingga bisa memberikan yang terbaik bagi negara kita sendiri maupun keluarga tercinta.

Bagaimana cara Bapak dalam beradaptasi di masing-masing negara tersebut dan mendapat kepercayaan dari para staf negara setempat?

Dengan percaya diri saya membawa anak dan istri ‘berpetualang’ ke berbagai negara. Salah satu kriteria yang penting untuk menjadi seorang global banker yang profesional kita harus bisa menyesuaikan diri maupun beradaptasi terhadap kultur lokal dengan baik. Kalau kita melihat ekspatriat-ekspatriat yang sukses, biasanya mereka juga akan bersikap demikian, sehingga kami bisa diterima dengan baik dan cepat oleh para karyawan setempat.

Seperti apakah pandangan Bapak terhadap dunia perekonomian dan pasar perbankan Indonesia hingga akhir tahun 2018 ini?

Indonesia adalah pasar yang sangat menantang dengan peluang besar, karena memiliki 250 juta penduduk tersebar di 17.000 kepulauan. Tahun ini ekonomi Indonesia telah berskala satu triliun dollar Amerika dan masuk dalam kategori investment grade country, baik itu lewat analisa lembaga pemeringkat dunia Fitch, S&P maupun Moody’s. Ini memberikan satu peluang bagi menjadi economic power house baik di ASEAN maupun Asia, sehingga Indonesia menjadi tujuan investasi yang menarik. Pada saat yang bersamaan kita juga berharap perusahaan lokal bisa berekspansi keluar menjadi New Indonesian Champion atau perusahaan membanggakan di luar negeri, seperti Huawei atau Samsung. Indonesia merupakan pasar yang sangat besar bagi Citibank untuk kawasan ASEAN dan Asia. Kami memiliki lini Consumer Banking dan Institutional Banking, dan juga memberikan banyak inovasi baru, konten dan solusi, apalagi dalam era digital sekarang ini. Diharapkan ke depannya kami akan memberikan lebih banyak lagi nilai tambah untuk dunia perbankan di Indonesia.

Produk atau program apakah yang menjadi urat nadi bagi Citi Indonesia dan menjadi sumber pemasukan terbesar?

Saya rasa konsep Citibank sudah berpindah dari product-centric menjadi client-centric, sehingga yang penting adalah menjadi be the best for our clients. Di era sekarang ini yang namanya nasabah baik itu klien maupun regulator definisinya bergeser menjadi lebih besar, karena bukan lagi sebagai shareholder, tapi stakeholder. Kita harus terus memberikan yang terbaik dan nilai tambah dari sisi konten maupun solusi terhadap seluruh nasabah kami di sini, baik di Institutional Banking maupun Consumer Banking.

Dengan adanya kemajuan dan kecanggihan teknologi digital sekarang ini, terobosan seperti apakah yang akan diterapkan Citibank ke depannya?

Kita melihat ada evolusi dalam teknologi m-banking. Kalau dulu disebut sebagai era kompetisi, masing-masing bank berlomba dan saling bersaing, membuat ATM maupun membuka cabang sendiri. Kemudian, berkembang masuk ke era coopetion, yaitu compete and cooperate. Mulai masuk ke open system, seperti adanya ATM Network, masing-masing sharing. Lalu, beralih ke era yang disebut collaboration. Bukan hanya kerjasama antar bank, tapi juga dengan fintech maupun bank dengan e-commerce. Bagaimana masing-masing bisa memberikan kontribusi sesuai dengan core kompetensinya masing-masing. Sehingga, kolaborasi ini apakah bank dengan players seperti Gojek atau Traveloka, semua saling bersinergi secara optimal dan ujung-ujungnya memberikan yang terbaik untuk nasabah kami.

Jadi maraknya perkembangan alat transaksi digital e-money atau mobile wallet, seperti Go-Pay, T-Cash, atau Ovo tidak menjadi ancaman dunia perbankan?

Saya rasa itu akan lebih menjadi complimentary. Kalau kita melihat di Indonesia tentang penetrasi perbankan terhadap seluruh penduduk di Indonesia, kami tidak mungkin bisa bekerja sendiri. Sehingga, kita memerlukan partisipasi dari segala sektor, klien-klien e-commerce maupun fintech. Jadi, masing-masing saya rasa mempunyai perannya sendiri-sendiri dan saling berkontribusi, karena nobody can do it alone.

Bagaimana cara Citibank mengantisipasi kejahatan dunia maya, agar para nasabah terproteksi nyaman dan aman dalam bertransaksi online?

Cyber security merupakan sesuatu yang akan terus menjadi fokus Citibank, karena ujung-ujungnya nasabah menginginkan jaminan kenyamanan dan keamanan, sekaligus dimudahkan dalam segala hal transaksi digital. Itulah sebabnya, bidang ini menjadi investasi besar Citibank secara global dan berkesinambungan. Mengingat, teknologi yang berkembang semakin canggih, demikian pula kejahatan dunia maya tak mau ketinggalan lihai mengimbanginya. Jadi, kami selalu ter-update dengan teknologi digital terbaru, agar para nasabah kami tetap dapat terproteksi.

Perusahaan Bapak menaruh perhatian besar kepada kaum generasi muda, termasuk arah kebijakan program CSR peduli akan pengembangan dan pemberdayaan para millenials. Mengapa ini perlu dilakukan dan legacy apakah yang diwariskan Citi Indonesia kepada mereka?

Program CSR Citibank memang sangat fokus kepada generasi muda yang diarahkan pada edukasi dan literasi finansial, youth economic opportunities, dan microentrepreneurship. Khusus, untuk kemajuan perekonomian pemuda-pemudi, ini menjadi sangat penting karena mereka adalah generasi sangat produktif yang jumlahnya cukup besar. Jika, mereka tidak mempunyai pekerjaan yang baik, kontribusinya terhadap perekonomian bangsa pun tidak signifikan dan akan menjadi permasalahan sosial negara kita. Itulah sebabnya, youth economic opportunities menjadi bagian dalam program Citi PEKA (Peduli dan Berkarya). Berkolaborasi dengan para mitra pelaksana kita, yaitu NGO membantu youth economic recovery dan youth economic opportunities untuk Indonesia, termasuk dalam hal entrepreneurship, pelatihan, dan kesempatan mempersiapkan diri sebelum bekerja. Jadi, kalau di Citi PEKA yang diluncurkan sejak 1998, kami sudah berkontribusi lebih dari US$10 juta dollar dan 90% staf kami sudah menjadi volunteer. Itu merupakan satu hal yang ingin kami terus lakukan, yaitu meningkatkan bagaimana hubungan kami menjadi semakin erat dan nyata dalam komunitas ini.

Faktor tersulit yang pernah dialami dan berhasil mengatasinya, setelah 30 tahun fokus di dunia perbankan menjadi bankir yang profesional dan tangguh?

Dalam pekerjaan masalah memang akan selalu ada dan ini menjadi tantangan untuk diatasi sebaik mungkin. Ketika menemui kesulitan yang penting adalah paradigmanya, yaitu apakah kita melihat crisis in opportunity atau opportunity in crisis? Jadi, kalau mau berpikir positif, kita lebih akan menganggapnya sebagai sebuah tantangan, agar diri kita menjadi semakin baik dan tangguh ke depannya. Ada satu buku yang berjudul ‘A Complaint is a Gift, tujuannya tak lain adalah untuk peningkatan kualitas diri, bagaimana mengubah yang negatif kemudian menjadi positif.

Lalu, bagaimana agar kita juga bisa meraih kesuksesan di masa tua nanti?

Nikmatilah setiap dekade perjalanan usia kita, baik di umur 20-an, 30-an, 40-an, dan seterusnya. Just enjoy the journey, agar kita bisa menjalaninya dengan sebaik mungkin. Karena masing-masing masa memiliki keunikan tersendiri. Setiap dekade itu, pasti selalu ada impian yang ingin kita wujudkan. Begitu pun saat memasuki usia tua. Tapi, yang pasti kita harus menjaga pola makan maupun kesehatan, agar tidak panen penyakit dan to live life to the fullest.

sumber: https://www.mensobsession.com/article/detail2/1315/batara-sianturi-memberikan-dedikasi-legacy-terbaik

Interview tahun 2018 yang disadur dari beritasatu.com

Batara Sianturi, Semua Hal yang Besar Membutuhkan Waktu

Senin, 17 Desember 2018 | 21:47 WIB
Oleh : GOR

Tidak banyak orang Indonesia yang dipercaya untuk menjadi pemimpin perusahaan multinasional di luar negeri. Batara Sianturi termasuk salah satu yang berhasil menjadi bankir Indonesia pertama yang dipercaya sebagai country head dalam sejarah Citibank, bank berskala global yang berdiri sejak 1812 di New York dan tersebar di lebih dari 160 negara dan yurisdiksi.

Pria kelahiran Jakarta 16 Juni 1960 ini telah meniti karier di Citibank selama 30 tahun, 18 tahun di antaranya di Citibank Indonesia, dan 12 tahun lainnya di Citibank luar negeri. Bahkan, ia pernah menjadi CEO (Chief Executive Officer) Citibank untuk Eropa Timur yang membawahkan 13 negara (2008-2013), dan CEO Filipina dan Guam (2013-2015) sebelum kembali ke Indonesia sebagai CEO Citi Indonesia.

Menurut dia, banyak orang hebat dari Indonesia yang mempunyai kompetensi dan integritas tinggi untuk memimpin perusahaan di luar negeri agar menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Untuk itu, dalam kepemimpinannya, ia terobsesi untuk mencetak rekor yakni menjadikan Citibanker Indonesia sebagai CEO di negara orang, bukan hanya CEO di negara sendiri.

Menurut Batara, untuk menjadi Citibanker yang andal harus mempunyai kompetensi dan bisa menjunjung tinggi nilai-nilai etika serta integritas sehingga masyarakat tahu bahwa seorang Citibanker identik dengan bankir yang dapat dipercaya.

Batara mempercayai bahwa semua hal yang besar dalam kehidupan ini membutuhkan waktu, seperti perjalanan hidupnya dalam meniti karier di Citibank. “Everything great in life takes time,” kata Batara kepada tim Investor Daily, di Jakarta, baru-baru ini.

Batara ingin membagikan prinsip ini kepada kaum milenial karena dalam kehidupan ada prinsip yang berlaku sekarang dan berlaku dikemudian hari yang telah teruji kebenarannya oleh waktu. Tidak ada jalan pintas (there is no such thing as a short cut).

Untuk mengetahui lebih jauh perjalanan karier, kisah sukses, dan filosofi kepemimpinan Batara Sianturi, berikut petikannya:

Bagaimana awal Anda memulai karier di dunia perbankan?

Saya sudah berkarier di industri perbankan selama 30 tahun, 18 tahun di antaranya di Citibank Indonesia, dan 12 tahun lainnya di Citibank luar negeri. Kantor cabang Citibank luar negeri yang pernah menempa saya dalam meniti karier adalah Citibank Australia selama dua tahun, Hungaria yang membawahi 12 negara di Eropa Timur selama delapan tahun, dan Filipina selama dua tahun. Jadi, secara keseluruhan saya sudah berpindah- pindah tugas di perwakilan Citibank luar negeri untuk 15 negara. Saya bergabung dengan Citibank pada 1988 sebagai management associate, seperti management trainee.

Saya juga mendapat kesempatan untuk pindah ke bagian lain, seperti bagian audit, operasional, finance, hingga ke bagian mortgage. Kemudian saya balik ke Indonesia memimpin semua cabang, Retail Banking dan Marketing, selanjutnya pindah ke Eropa Timur tahun 2005. Ketika saya berkarier di Eropa Timur, saya membawahkan 13 negara. Saat di Filipina, saya membawahkan Flipina dan Guam. Setelah itu, saya kembali ke Indonesia hingga sekarang.

Bisa diceritakan bagaimana Anda berproses dalam meniti karier di perbankan?

Semua ada proses belajar. Saya mengalami berpindah-pindah negara, sehingga ada rotasi geografik pindah Indonesia ke Australia balik ke Indonesia, balik lagi Eropa Timur, Filipina lalu ke Indonesia lagi. Ada juga rotasi bisnis, saya pernah di bagian consumer banking, terus pindah ke institutional banking. Jadi berbagai macam bagian bisnis perbankan pernah saya rasakan.

Apakah karier perbankan merupakan panggilan hati Anda sejak awal?

Saya rasa, kalau panggilan saya dalam meniti karier adalah di perbankan, saya mungkin salah memulai karena dari sembilan tahun waktu belajar saya, tujuh tahun saya habiskan untuk menggeluti ilmu teknik kimia. Jadi, harusnya panggilan saya menjadi seorang insinyur.

Kemudian saya menyadari bahwa panggilan saya adalah menjadi seorang bankir. Bukan dokter, bukan insinyur, tetapi seorang bankir. Sebelum berkarier di perbankan, saya menghabiskan sembilan tahun di AS untuk belajar dan mendapatkan dua gelar S1 di bidang teknik kimia dan Polymer Macromolecular Science dari Case Western Reserve University.

Setelah itu, saya melanjutkan kuliah untuk mendapatkan dua gelar master, yakni Master of Chemical Engineering dari Steven’s Institute of Technology dan Master of Business Administration (MBA) dari St John University.

Karena saya menyadari panggilan saya adalah menjadi seorang bankir, saya tidak bosan dalam menggeluti pekerjaan. Saya meyakini, panggilan kita akan mempertemukan dengan karier dan itu akan membuat kita merasa senang dalam bekerja. Meskipun kita sudah bekerja selama 30 tahun, kita tidak pernah merasa lelah atau bosan.

Apa kiat sukses Anda dalam meniti karier?

Saya rasa kiat sukses dari semua pekerjaan sama, tidak hanya dalam dunia perbankan, tetapi di semua jalur pekerjaan. Saya yakin, jika fondasi dalam meniti karier adalah kompetensi maka kita akan benar-benar menjadi kompeten.

Kalau mau menjadi bankir, jadilah bankir yang kompeten. Di Citibank ada core competence yang bisa melihat apakah seseorang cocok menjadi Citibanker karena Citibank bukan bank lokal atau bank regional, tetapi bank berskala global. Citibank melihat orang-orang yang layak untuk menjadi Citibanker yakni orang-orang yang berpandangan global, merasakan ekonomi global, dan menikmati denyut bisnis global.

Orang-orang demikian pasti tertarik untuk bergabung dengan organisasi semacam Citibank. Jadi, kompetensi adalah dasar, di atas komitmen yang diimplementasikan melalui bagaimana cara bereaksi dan berinteraksi dengan anak buah, atasan, klien, dan juga dengan regulator. Ini bagian dari emotional quotien.

Menurut saya, untuk menjadi sukses, kita harus mempunyai keterampilan (skill) yang saya sebut sebagai emotional quotient atau EQ. Kita harus tahu siapa diri kita dan harus tahu orang lain. Jadi tahu persis bagaimana harus berinteraksi satu sama lain dan bagaimana bekerja dalam sebuah team work. Saya punya moto di Citibank Indonesia “We like superstars but we prefer a winning team (kita suka superstar tetapi kita lebih suka punya tim pemenang).”

Seandainya sebuah tim banyak superstarnya, tapi timnya tidak menang-menang, karena mengedepankan ego dari masing masing superstarnya, itu percuma saja. Jadi, team work sangat penting karena dilandasi EQ. Dan terakhir, kita harus punya energi dan passion.

Nilai-nilai apa saja yang Anda tanamkan dalam mengelola perusahaan?

Citibank mempunyai banyak kepedulian terkait etika sebab bisnis perbankan sangat spesialis dan profesional dimana bank adalah bisnis kepercayaan. Citibank meletakkan standar yang sangat tinggi untuk etika. Ada buku yang menyebutkan, tidak ada yang namanya etika bisnis dan etika privat, yang ada hanyalah etika.

Jadi, dalam kehidupan pribadi atau pun kehidupan karier profesional, di rumah maupun di kantor, cuma ada satu etika. Jadi, jika bergabung dengan Citibank, dan menyebut diri Anda sebagai Citibanker, Anda harus memiliki integritas tinggi karena Citibank adalah bisnis kepercayaan dan wajib dilakukan karena itu sangat bernilai.

Kepercayaan dan integritas mempunyai harga sehingga harus ditunjukkan. Dengan demikian masyarakat tahu bahwa seorang Citibanker identik dengan bankir yang dapat dipercaya.

Bagaimana cara Anda menjalin hubungan dengan bawahan, mitra, dan kolega?

Gaya manajemen yang saya lakukan adalah manajemen partisipasi atau participative management. Saya ingin semua orang berpartisipasi dalam diskusi untuk menemukan solusi dalam setiap permasalahan. Saya punya kebiasaan sering jalan-jalan ke tempat anak buah sehingga ketika meeting, saya memperoleh informasi lebih update tentang kondisi terkini. Jadi, saya sangat percaya dengan manajemen partisipasi.

Saya sering berkeliling dan berinteraksi langsung, baik untuk menemui anak buah, klien, atau kolega. Untuk kolega yang berada di negara lain, saya sering telepon atau video conference dan saya merasa face to face lebih powerful dalam berkomunikasi untuk memecahkan masalah.

Saya juga menggunakan cara komunikasi melalui berbagai media, seperti email dan whatsapp. Saya menyukai manajemen yang benar-benar efektif.

Bagaimana cara Anda menggenjot kinerja perusahaan?

Setiap tahun kita membuat perencanaan dengan timeline. Dan kalau timnya dalam satu perahu berarti kita harus meyakini bahwa proses untuk melaksanakan perencanaan benar-benar terlaksana sehingga target yang diinginkan bisa tercapai. Jadi, seorang pemimpin harus punya visi.

Kita harus tahu saat ini posisi kita di mana, kemudian harus ke mana, dan bagaimana caranya. Contoh, umpamanya profit kita sekarang 100, kalau ingin naik menjadi 120, kita harus membuat perencanaan untuk meletakkan proses agar kenaikan profit itu bisa tercapai.

Cara Anda mengatasi perbedaan pendapat?

Sebetulnya beda pendapat itu bagus karena jangan sampai dalam manajemen tidak ada yang berani mengeluarkan pendapat dan menjadi orang yang yes man. Dalam diskusi biasanya terjadi perbedaan pendapat, tetapi yang terpenting bagaimana menemukan solusi pemecahan masalah.

Cara Anda mengatasi tantangan saat ini dan ke depan?

Seorang CEO harus selalu melihat tantangan dan peluang sehingga dia harus tahu bahwa ada tantangan dalam peluang dan dalam tantangan ada juga peluangnya. Tantangan industri perbankan tahun depan dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti kenaikan suku bunga Fed Funds Rate (FFR), situasi di Eropa, perang dagang antara AS dan RRT, dan perlambatan ekonomi global.

Semuanya pasti berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia karena dunia sudah terkoneksi di era globalisasi. Jadi, tugas kami adalah memastikan bahwa navigasi yang kita buat bisa mengatasi volatilitas pasar dan memastikan target-target yang sudah direncanakan bisa tercapai.

Dalam kondisi volatilitas pasar yang tinggi seperti saat ini, kami harus memiliki beberapa opsi agar pererencanaan benar-benar terwujud dengan baik. Saya meyakini peluang masih besar karena Indonesia adalah negara besar yang memiliki peringkat investasi cukup bagus sebagai investment grade, indeks kompetisi RI juga meningkat, pertumbuhan ekonomi 5,17%. Indonesia juga diuntungkan dengan bonus demografi berupa banyaknya penduduk usia produktif.

Citibank mempunyai 3.000 staf, 62%-nya milenial. Jadi, saya juga harus menyesuaikan gaya manajemen agar menjadi relevan. Citibank dikenal sangat produktif mencetak bankir-bankir andal Indonesia, yang sudah menjadi pemimpin di berbagai bank, baik lokal, regional, maupun global. Alumni Citibank ada juga yang duduk di pemerintahan, di kabinet kepresidenan. Dengan legacy tersebut, Citibank merayakan 50 tahun keberadaannya di Indonesia. Legacy Citibank sebagai pencetak bankir handal harus terus direplikasikan pada generasi milenial yang sekarang.

Bagaimana target ke depan?

Kami ingin menjadi perbankan yang sangat kuat, baik di lini institutional banking, commercial banking, maupun di consumer banking. Bagaimana Citibank sebagai sebuah bank berskala global terus memiliki relevansi dan memberikan solusi dan konten kepada klien kami. Kami ingin menjadi sebuah franchise global banking yang sangat kuat.

Sejauh ini, gebrakan apa yang Anda rasa paling monumental selama berkarier?

Kami fokus pada digitalisasi bisnis. Sewaktu saya ditugaskan di Citibank Indonesia tahun 2015, kita punya kantor cabang 20 cabang, tapi sekarang cabangnya hanya 10 karena memang hampir 80% transaksi saat ini di luar cabang. Landscape perbankan telah berubah, pasar perbankan juga berubah. Fase pertama bank adalah fase physical distribution seperti kantor cabang, ATM, terus EDC. Kemudian masuk fase kedua yakni phone banking atau analog.

Sekarang masuk fase ketiga, yakni digital. Artinya, pada fase digital, transaksi melalui cabang akan turun, transaksi phone banking akan turun. Layanan perbankan harus menyesuaikan dengan perilaku masyarakat yang hidup di era digitalisasi.

Bagaimana dengan pencapaian?

Kami berada di depan kurva. Pada 2016, kantor cabang dipangkas 50% karena kami ingin memastikan bahwa apa yang kami lakukan merupakan solusi dalam menjawab tantangan masa depan. Cabang perbankan sudah pindah dalam genggaman tangan, bukan Anda yang pergi tetapi perbankan datang ke Anda melalui mobile phone. Dan mobile first merupakan prioritas dari Citibank.

Nilai-nilai yang Anda terapkan dalam berbisnis, keluarga, dan masyarakat?

Menurut saya, banyak sekali hal-hal antara kehidupan pribadi dan kehidupan profesional sekarang sudah tidak bisa dipisah lagi. Misalnya, saya pergi dari ruangan ini untuk jalan-jalan di mal. Orang agak susah membedakan itu yang jalan Batara seorang pribadi atau CEO Citibank.

Artinya saya harus selalu bersikap layaknya seorang Citibanker. Saya tidak bisa berperilaku bebas semau saya sendiri. Apa yang saya share di media sosial harus mencerminkan nilai-nilai yang saya junjung. Jadi kita harus selalu menjunjung tinggi etika.

Dalam karier, filosofi apa yang Anda kedepankan?

Saya percaya, semua hal yang besar di kehidupan ini membutuhkan waktu. Untuk jadi seorang jenderal harus melewati posisi kopral. Demikian juga untuk menjadi managing director di bank, harus melewati posisi manager dulu.

Everything great in life takes time, itu sebenarnya nilai-nilai yang ingin saya share kepada generasi milenial. Tak ada jalan pintas (there is no such thing as a shortcut), jadi harus melalui proses. Ada hal-hal yang dalam kehidupan itu merupakan prinsip yang berlaku sekarang dan berlaku di kemudian hari yang telah teruji kebenarannya oleh waktu.

Kita juga harus fokus karena kita sekarang hidup dalam era parallel priorities. Misalnya, hari ini saya ada interview dan rapat, jadi harus punya parallel thinking sehingga perlu kemampuan multitasking untuk mengatasi tantangan.

Dalam 30 tahun berkarya, apa obsesi yang ingin dicapai ke depan?

Saya ingin melihat kolega di Citibank Indonesia, baik yang muda atau senior suatu hari memecahkan rekor. Bagaimana mereka bisa juga menjadi CEO di negara orang. Kalau saya bisa menjadi CEO di Hungaria, Eropa Timur yang membawahi 13 negara, kemudian di Filipina membawahi Filipina dan Guam, saya ingin suatu hari ada yang lebih hebat sehingga membuat kita orang Indonesia jadi bangga, bukan hanya jadi CEO di negara sendiri.

Saya melihat ekspatriat dari India, Pakistan, Filipina, atau dari Eropa, dan AS sudah bisa jadi CEO di berbagai negara. Saya rasa, orang Indonesia tidak kekurangan kompetensi.

Obsesi pribadi Anda?

Saya ingin jadi seorang pemimpin yang baik untuk mencetak anak buah yang baik, mencetak seorang pemimpin yang baik, menciptakan successor yang baik. Leader produces leaders, leader produces successors and leader produces followers. Mudah mudahan saya bisa mencetak leader yang lebih banyak, followers dan anak buah yang bagus dan andal, dan calon pengganti saya suatu hari bisa membawa Citibank ke arah yang lebih baik.

Bagaimana Anda meluangkan waktu untuk keluarga?

Paradigma lama yang saya rasa kurang tepat untuk saat ini adalah work life balance karena saya di kantor dari jam 9 pagi sampai jam 6 malam atau sekitar 9 jam, sisanya baru di rumah. Misal tidur 6 jam, sisanya dengan keluarga. Ada yang bilang work life fleksibility paling cocok buat saya saat ini.

Buat saya mungkin work life adalah nyaman kalo saya kerja 12 jam, datang di kantor jam 8 pulang jam 8 itu nyaman. Jika pulang lebih cepat maka badan akan terasa sakit karena buat saya yang terpenting output. Kalau kita bicara paralel, ada komunikasi melalui WA dengan keluarga, WA dengan teman. Jadi dengan segala macam alat yang tersedia, waktu menjadi lebih fleksibel.

Peran keluarga dalam karier Anda?

Sangat penting. Selama 30 tahun meniti karier, dan 12 tahun tugas di luar negeri, bersama istri dengan tiga anak yang tidak terpisahkan. Jadi buat saya, peran keluarga sangat luar biasa dalam mendukung karier dan dalam waktu yang bersamaan saya selalu membuat quality time untuk keluarga.

Hobi Anda?

Olahraga. Saya bangun jam 5 pagi terus olahraga sampai jam 8 pagi, antara lain olahraga lari, angkat besi, pilates, atau berenang. Itu saya lakukan rutin tiap hari. Selain itu, saya juga gemar membaca buku nonfiksi, seperti biografi.

Kegiatan yang dilakukan ketika weekend?

Yang pasti, paling enak Sabtu Minggu tidur siang jika di rumah tidak ada acara arisan keluarga. Terkadang saya juga ke mal atau nonton. (*)

sumber: https://www.beritasatu.com/news/528285/batara-sianturi-semua-hal-yang-besar-membutuhkan-waktu

interview tahun 2022 yang disadur dari Investor Daily

Memenuhi 100% Panggilan Hidup

Batara Sianturi, CEO Citi Indonesia (ist)

Batara Sianturi, CEO Citi Indonesia (ist)

Para chief executive officer (CEO) memiliki definisi yang berbeda-beda tentang kesuksesan. Lalu, apa definisi sukses menurut CEO Citi Indonesia,  Batara Sianturi?

Dalam pandangan Batara Sianturi, sukses adalah mencapai 100% dari panggilan hidup setiap orang. Jika seseorang mendapat panggilan hidup sebagai bankir, maka ia harus bertekad menjadi bankir terbaik sesuai potensi yang dimilikinya. Begitu pula jika ia mendapat panggilan hidup sebagai dokter, insinyur, pegawai negeri, karyawan swasta, atau pengusaha. 

“Kita harus menjalankan tujuan hidup kita, purpose driven life,” kata eksekutif kelahiran Jakarta, 26 Juni 1960tersebut.

Batara percaya bahwa dalam kehidupan ini setiap orang diberi potensi oleh Yang Maha Kuasa sesuai kemampuannya masing-masing. Itu sebabnya, ia harus memanfaatkan semaksimal mungkin potensi yang dimilikinya. 

Maximize your potential by delivering your best  performance. Jadikanlah potensi dan kinerja sebagai ‘what’ dan tata cara dalam menjalankannya menjadi aspek ‘how’, yang  terdiri atas kompetensi,emotional quotient (EQ), teamwork, energi, dan kepemimpinan,” papar dia. 

Batara Sianturi juga yakin seseorang yang berkarier atas panggilan hati nurani atau panggilan hidup akan menjalani pekerjaan dengan senang hati. Ia adalah contohnya. “Meskipun sudah bekerja selama lebih dari 30 tahun, saya tidak pernah merasa lelah atau bosan,” tutur dia.

Batara Sianturi adalah bankir tulen. Ia telah berkarier di Citi sebagai bankir selama 34 tahun, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Di luar negeri, Batari menjalani karier di Australia, Hungaria (membawahkan 12 negara lainnya di Eropa Timur), serta Filipina dan Guam.  

Secara keseluruhan, Batara sudah berpindah-pindah tugas di perwakilan Citi luar negeri selama 12 tah

un dan secara total memiliki wewenang sebagai CEO yang membawahkan 15 negara.

Panggilan hidup sebagai bankir ternyata tidak begitu saja datang kepada Batara Sinturi. Ia menghabiskan waktu tujuh tahun untuk mendalami   teknik kimiadi Case Western Reserve University, Amerika Serikat (AS).

Batara akhirnya menyadari bahwa panggilan hidupnya adalah menjadi bankir. Karena itu, ia langsung banting setir dan melanjutkan kuliah untuk meraih gelar Master of Business Administration (MBA) dari St John University, AS.

Berikut penuturan lengkap Batara Sianturi kepada wartawan Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini:

Bisa cerita masa kecil Anda?

Saya dilahirkan di Jakarta pada 26 Juni 1960.  Saya adalah anak pertama dari lima bersaudara. Saya memiliki masa kecil dan remaja yang cukup aktif.  Saya belajar bahasa Inggris, bahasa Perancis, Pramuka, bela diri Judo dan Kungfu, piano, dan olahraga, di mana saya masuk klub sepakbola, berenang, dan catur. Saya juga aktif di gereja.  

Setelah lulus SMA, saya kuliah di AS. Saya meraih dua gelar, yaitu Bachelor of Science (BSc) dalam Chemical Engineering dan Macromolecular Science dari Case Western Reserve University, kemudian Master of Chemical Engineering dari Stevens Institute of Technology dan Master of Business Administration – Finance dari St John’s University.

Nilai-nilai yang ditanamkan orang tua Anda?

Orang tua saya menanamkan nilai-nilai agar saya menjadi individu yang tangguh dan bisa beradaptasi di mana saja. Orang tua saya juga selalu mendorong saya agar menjadi yang terbaik di bidang apa pun yang saya pilih, memiliki pemikiran  global, dan agar saya menjadi warga negara dunia yang aktif serta taat kepada Tuhan.  

Bagaimana liku-liku perjalanan karier Anda hingga mencapai posisipuncak?

Saya sudah berkarier di industri perbankan selama lebih dari 34 tahun di Citi, baik di dalam maupun di luar negeri. Secara keseluruhan, saya sudah berpindah-pindah tugas di perwakilan Citi di luar negeri selama 12 tahun dan secara total memiliki wewenang sebagai CEO yang membawahkan 15 negara.

Saya pertama kali bergabung di Citi Indonesia pada 1988 sebagai management associate untuk consumer banking. Saya juga menempati sejumlah bidang dan posisi berbeda, termasuk sebagai general manager untuk overseas mortgage di Citi Australia, consumer bank head, dan CEO di Citi Hungaria.

Selain itu, saya pernah menjabat sebagai regional head Citi Hungaria serta Balkan and Baltic Regions, membawahkan 12 negara lainnya, kemudian CEO Citi Filipina serta cluster head Citi Filipina dan Citi Guam, sampai akhirnya ditunjuk menjadi CEO Citi Indonesia pada 2015 sampai sekarang. 

Pekerjaan ini sesuai passion Anda?

Saya menghabiskan sembilan tahun untuk menyelesaikan masa akademis saya di AS, yaitu dari 1979 sampai 1988. Setelah menggeluti kuliah ilmu teknik kimia selama tujuh tahun, saya baru menyadari kalau panggilan saya adalah menjadi seorang bankir. Oleh sebab itu, saya langsung banting setir dan melanjutkan kuliah selama dua tahun untuk mendapatkan gelar Master of Business Administration (MBA) dari St John University.

Apabila saya tidak mengambil keputusan tersebut, seharusnya saya menjadi insinyur. Karena menyadari panggilan sebagai bankir, saya tidak bosan  menggeluti pekerjaan ini. Meski sudah bekerja lebih dari 30 tahun, saya tidak pernah merasa lelah atau bosan.

Kiat sukses Anda?

Saya yakin jika fondasi dalam meniti karier adalah kompetensi, maka kita akan benar-benar menjadi kompeten. Kalau mau menjadi bankir, jadilah bankir yang kompeten. Di Citi, kami memiliki core competence standards yang bisa menganalisa apakah seseorang cocok menjadi Citibanker, yaitu bankir dengan global mindset.   

Jadi, kompetensi adalah dasar. Tetapi kompetensi saja tidak cukup. Diperlukan soft skills, atau secara holistik disebut emotional quotient (EQ). Esensinya adalah bagaimana mengerti diri sendiri (knowing self) dan bagaimana bisa berinteraksi (social skills) dengan seluruh pemangku kepentingan, dari mulai anak buah, atasan, klien, hingga regulator.

Agar  sukses, kita harus punya keterampilan (skill) yang disebut EQ. Kita harus tahu siapa diri kita dan orang lain, tahu persis bagaimana harus berinteraksi satu dengan yang lain dan bekerja dalam sebuah tim.

Saya punya moto di Citi Indonesia, yaitu “We like superstars but we prefer a winning team”. Kami suka pemain bintang, tetapi kami lebih suka punya tim pemenang. Jika di sebuah tim banyak individu yang menonjol, tapi timnya tidak atau jarang menang karena masing-masing mengedepankan egonya, maka itu menjadi percuma.  Terakhir, kita harus punya energi dan semangat juang.  

Dalam menjalani kehidupan pribadi, kita harus banyak bersyukur dan rendah hati. Jangan menjadi kacang yang lupa kulitnya. Kita bisa mencapai banyak hal juga karena berkat Tuhan dan bantuan banyak orang.  

Definisi sukses menurut Anda?

Sukses adalah mencapai 100% dari panggilan hidup kita masing-masing. Kalau panggilan saya menjadi bankir, maka saya bertekad menjadi bankir yang sebaik-baiknya, sesuai potensi yang saya miliki. Demikian juga apabila panggilannya menjadi dokter, insinyur, pegawai negeri,  karyawan swasta, atau pengusaha.

Kita harus menjalankan tujuan hidup kita, purpose driven life. Dalam kehidupan ini, kita diberi potensi. Kinerja kita diharapkan sesuai potensi tersebut.  Maximize your potential by delivering your best performance. Jadikanlah potensi dan kinerja sebagai “what” dan tata cara dalam menjalankannya menjadi aspek “how”.

Semua hal besar membutuhkan waktu. All great things take timeThere is no short cut. Untuk menjadi jenderal harus melewati posisi kopral. Demikian juga untuk menjadi managing director di bank harus melewati posisi manajer dulu. Tak ada jalan pintas, harus melalui proses.

Filosofi hidup Anda?

Saya harus selalu menjunjung tinggi etika.   There is no business ethicsthere is only ethics.  Kehidupan pribadi dan kehidupan profesional kita sudah blended. Nilai-nilai hidup kita pasti akan transparan di kehidupan profesional dan kehidupan pribadi.

Gaya kepemimpinan Anda?

Saya senantiasa berupaya menjadi  pemimpin yang baik, yang mampu mencetak anak buah dan pemimpin yang baik pula. Saya percaya leader produces leaderssuccessors and followers. Mudah-mudahan saya bisa mencetak leader lebih banyak, followers, serta anak buah yang bagus dan andal. Saya berharap calon pengganti saya nanti bisa membawa Citi Indonesia ke arah yang lebih baik.

Dalam hal manajemen, saya memiliki gaya partisipasi atau participative management. Saya ingin semua orang berpartisipasi dalam diskusi untuk menemukan solusi dalam setiap permasalahan.  

Arti karyawan dan perusahaan bagi Anda? 

Karyawan dan perusahaan itu keluarga saya. Saya menghabiskan waktu untuk bekerja hingga 10 jam sehari.  Berarti perusahaan dan karyawan merupakan bagian kehidupan saya sehari-hari. Maka penting bagi saya untuk menciptakan suasana kerja yang nyaman bagi para karyawan sehingga mereka bisa bekerja secara efektif, tumbuh, dan sukses bersama.

Apa yang Anda lakukan agar karyawan tergugah untuk melaksanakan visi-misi perusahaan?

Sebagai pemimpin, saya harus walk the talk. Pernyataan visi dan misi adalah bagian dari komunikasi agar mendapatkan kepercayaan dan pemahaman yang sama dari para pemangku kepentingan. Agar penerapannya efektif, perlu dipikirkan apa manfaat yang diperoleh mereka   bila menjalankannya atau UBSA (ujung-ujungnya buat saya apa) alias WIIFM (what’s in it for me). Semua harus win-win bagi perusahaan, karyawan dan nasabah, serta pemangku kepentingan lainnya.

Strategi Anda memajukan perusahaan?

Kami memiliki program pelatihan yang terstruktur untuk mengembangkan hard skills maupun soft skills para karyawan. Kami juga punya program mentoring lintas generasi dan lintas negara.Citibank  sangat produktif  mencetak bankir-bankir andal. Di Indonesia, alumni kami banyak yang menjadi pemimpin di berbagai bank, baik lokal, regional, maupun global. Banyak pula yang menempati posisi strategis pemerintahan, BUMN, bahkan kabinet kepresidenan.

Cara Anda merespons krisis, termasuk pandemi Covid-19?

Dalam merespons pandemi Covid-19, kami mengadakan program vaksinasi untuk karyawan dan keluarganya, termasuk vaksin booster.  Kami juga memberikan tunjangan kesehatan tambahan dan kompensasi kepada karyawan. Selain itu, kami melakukan beberapa inisiatif internal untuk meningkatkan produktivitas dan kekompakan karyawan.

CEO kami, Jane Fraser menguraikan model kerja How We Work  atau Bagaimana Kita Bekerja. Kami menerapkan tiga hal, yaitu hybrid (bekerja di kantor setidaknya tiga hari per minggu dan dari rumah hingga dua hari per minggu), remote (jarak jauh), atau resident (di kantor).  

Kegiatan corporate social responsibility (CSR) sangat kami prioritaskan.  Bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM), kami berkontribusi sekitar Rp 4,4 miliar untuk menyediakan perlengkapan dan peralatan medis serta perlengkapan sekolah anak-anak di daerah terpencil.  

Kinerja bisnis Citi Indonesia saat ini?  

Pada semester I-2022, kami mencatatkan laba bersih  Rp 750 miliar, meningkat 63% secara yearonyear (yoy), terutama disebabkan lebih rendahnya biaya cadangan penurunan nilai kredit di lini institutional banking. Portofolio kredit Citi tumbuh 9,8% menjadi Rp 43,7 triliun, terutama berasal dari lini bisnis institutional banking, khususnya sektor industri manufaktur dan perantara keuangan.

Pertumbuhan portofolio kredit Citi ditunjang tingkat kualitas dana pihak ketiga (DPK) berkelanjutan yang tumbuh 11,1%. Itu memungkinkan kami  mencatatkan loan to deposit ratio (LDR) yang sehat sebesar 64%. Selain sangat likuid, Citi Indonesia memiliki tingkat kecukupan modal yang sangat baik dengan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 26%. Di sisi lain,  gross non-performing loan (NPL) turun dari 3,61% menjadi 2,86%. Kami juga berhasil menjaga rasio net NPL tetap rendah sebesar 0,26%.

Target Anda ke depan?

Kami berupaya menjadi bank yang kuat di lini institutional banking. Kami adalah bank berskala global yang terus memiliki relevansi dan memberikan solusi kepada klien kami.  

Pendapat Anda tentang perkembangan industri perbankan nasional?

Industri perbankan Indonesia pada 2022 menunjukkan perkembangan yang positif. Per akhir Mei 2022 dibandingkan 2017, penyaluran kredit meningkat sekitar 27%, DPK tumbuh sekitar 42%, diiringi NPL yang stabil dan CAR yang meningkat. Ini luar biasa, mengingat pandemi Covid-19 masih membayangi perekonomian Indonesia.

Tentunya masih ada tantangan berupa tekanan inflasi. Tetapi ini sementara saja. Saya optimistis terhadap sinergi kebijakan Bank Indonesia (BI) dengan kebijakan fiskal pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).  

Apa sesungguhnya yang Anda kejar dalam hidup? 

Memenuhi panggilan sesuai dengan talenta, potensi, dan bakat yang dianugerahkan Tuhan. Saya harus merespons panggilan itu sebaik-baiknya, karena itulah yang akan menjadi legacy saya. ***

Memenuhi 100% Panggilan Hidup
Batara Sianturi, CEO Citi Indonesia (ist)

Antara Keluarga, Fotografi, Yoga, dan Musik Jaz

Batara Sianturi biasanya banyak menghabiskan waktu di akhir pekan dengan bersantai bersama keluarga. “Saat weekend, saya biasanya santai saja dengan keluarga, ikut acara kekeluargaan atau acara gereja,” tutur Batara.

Batara  memang sangat dekat  dengan keluarganya. Selama 34 tahun meniti karier dan 12 tahun bertugas di luar negeri, Batara  bersama istri dan tiga anaknya adalah keluarga yang tak terpisahkan.

“Jadi, bagi saya, peran keluarga sangat luar biasa dalam mendukung karier. Saya selalu membuat quality time untuk keluarga,” tandas dia.

Batara sebetulnya punya banyak hobi, dari mulai  olahraga, fotografi, membaca buku, hingga menikmati musik jaz. Untuk urusan musik jaz,  Batara memilih piano atau clavinova. Sedangkan untuk olahraga, ia memilih lari, weight training, yoga, atau berenang. **

Sumber: https://investor.id/figure/309925/memenuhi-100-panggilan-hidup