Batara P. Sianturi

Foto: Batara P. Sianturi – Ketua Paposma Se Dunia
(Sumber foto: Dok. Paposma Se Dunia).

Berikut kami sajikan Profil dan biografi dari ketua Paposma Se Dunia amang Batara Paruhum Sianturi (dihimpun dari berbagai sumber referensi) sebagai berikut dibawah ini:

Profil & Biografi Ketua Perkumpulan Parsadaan Pomparan Raja Simataniari Sianturi Boru dohot Berena Se Dunia (PAPOSMA SE-DUNIA) – Batara P Sianturi:

Nama Lengkap: Batara Paruhum Sianturi BSc.,MSc.,MBA (Bapak Naomi)

Tempat/Tanggal Lahir: Jakarta, Minggu, 26 Juni 1960

Istri: Debbie Tampubolon (Mama Naomi)

Ayah: Ev. Dr Talas Talas Sianturi (Ompu Naomi)

Ibu: Meis Tiurma boru Siahaan (Ompu Naomi Boru)

Ompung Doli: Melanthon Sianturi (Ompu Batara)

Ompung Boru: Nunia boru Simanjuntak (Ompu Batara Boru)

Ompung Mangulaki: Sintua Ruben Sianturi.

Ompung Mangulaki Boru: Bilha boru Lumban Tobing

Biografi:

Perjalanan Karier Profesional (Bankir) Batara Paruhum Sianturi

Batara Sianturi merupakan bankir Indonesia pertama yang berhasil mengukir sejarah masuk dalam jajaran direksi perbankan luar negeri. Pria yang mempunyai empat gelar kesarjanaan dari beberapa universitas ternama Amerika Serikat ini mengawali karirnya di dunia perbankan sebagai Management trainee Citigroup Indonesia pada 1988. Hanya berselang empat tahun kemudian, karir Sianturi melambung setelah resmi diangkat sebagai Direktur Keuangan dan, dua tahun kemudian, sebagai Vice President korporasi perbankan yang berbasis di kota New York.

Fasih berbahasa Inggris dan Prancis, bankir kelahiran 1960 ini semakin mengokohkan karir internasionalnya setelah menjadi wakil Citigroup Indonesia yang bertugas sebagai General Cross Border Mortgage di Australia. Sianturi memikul tanggung jawab besar untuk memajukan pasar properti, khususnya perumahan, untuk wilayah Singapura, Hong Kong dan Indonesia.

Sukses melaksanakan tugas tersebut, membuat bankir kelahiran kota Jakarta ini semakin memperoleh kepercayaan untuk menjabat berbagai posisi penting dalam perusahaan seperti Direktur Keuangan, Direktur Retail Banking serta Direktur Country Distribution dan Sales Citibank Indonesia. Pada 2004-2005, Batara Sianturi banyak dipercaya memangku posisi strategis, sebagai Direktur Country Marketing sebelum akhirnya dilantik sebagai salah satu CEO untuk Citibank Hungaria. Kemudian Citi Indonesia menunjuk Batara Sianturi sebagai Citi Country Officer (CCO) dan Country Head untuk menggantikan Tigor M. Siahaan yang telah memimpin perusahaan sejak 2011.

Selain 34 tahun loyalitas yang ditunjukkan Batara Sianturi pada perusahaan, ayah tiga anak ini juga memiliki sederet sumbangan prestasi yang mengagumkan. Kinerjanya berhasil memacu peningkatan jaringan dan distribusi Citibank lebih dari 10 kali lipat serta meningkatkan bisnis Gold Wealth Management Citibank Indonesia menjadi dua kali lipat.  Baginya, kepuasan dalam menjalani hidup dan karier adalah membangun bisnis dan timnya.

Dia mengaku punya kebanggaan tersendiri apabila melihat anak buahnya maju, apalagi bisa menggantikan posisinya. Menurut Batara, sebagai pemimpin, salah satu tugas yang harus dijalankan dengan baik adalah membangun pemimpin baru. Tentunya, puncak karir dalam jajaran Direksi Citibank Zrt Hungaria tersebut juga merupakan hasil kerja keras dan disiplin yang sudah dipupuk sejak usia remaja.

Aktifitas Batara Paruhum Sianturi dalam Sosial Marga:

Seperti sederet capaian prestasi yang mengagumkan dari sejak menempuh Pendidikan dan kemudian dalam dunia perbankan yang cemerlang, demikian juga didalam kehidupan sosial marga yang disandangnya yaitu Marga Sianturi. Seperti yang pernah disebutkannya dalam suatu kesempatan;

“Tugas seorang pemimpin tidak hanya memberi visi dan misi, tetapi harus mau mendengar, melayani, berkorban dan menjadi panutan, jadi apabila sudah menerima tanggungjawab, berarti siap dengan hal tersebut” Batara Sianturi.

Banyak hal yang sudah beliau lakukan sebelum dan sesudah beliau menjadi Ketua Perkumpulan Parsadaan Pomparan Raja Simataniari Sianturi Boru dohot Berena Se Dunia Periode 2021-2026. Salah satu yang sudah mulai terlihat hasilnya yaitu; Membawa Sianturi Simataniari masuk ke era digitalisasi dengan membangun situs website http://sianturisimataniari.com/.

Riwayat Pendidikan:

Bachelor of Science, Chemical Engineering, Case Western Reserve University

Bachelor of Science, Macromolecular Science, Case Western Reserve University

Master of Chemical Engineering, Stevens Institute of Technology, 1984

Master of Business Admiinistration, Finance, St. John’s University, 1988

Karir:

Management trainee di Citigroup

Analisis Riset di Polymer Processing Institute, Hoboken, AS

Vice President Citigroup

Direktur Keuangan Citibank Indonesia

Direktur Retail Banking Citibank Indonesia

Direktur Country Distribution & Sales Citibank Indonesia

Direktur Country Marketing Citibank Indonesia

Citi Country Officer Hungaria serta Cluster Head bagi 12 negara lain di Eropa Timur.

Citi Country Officer Filipina serta Cluster Head untuk Filipina dan Guam

Citi Country Officer & Country Head untuk Citi Indonesia

Telah 34 tahun berkarir menjadi bankir

Aktif didalam Organisasi Sosial Marga:

Wakil Ketua Panitia Pesta Bonataon 2019 Sianturi Simataniari Se Jabodetabek

Wakil Dewan Pakar Sianturi Simataniari Se Jabodetabek

Wakil Ketua Panitia Pesta Partangiangan Jubileum 100 Tahun Tugu Raja Simataniari Sianturi Lobutolong 2021

Ketua Perkumpulan Parsadaan Pomparan Raja Simataniari Sianturi Boru dohot Berena Se Dunia Periode 2021-2026.

Berita terkait Tahun 2016 yang lalu yang diambil dari link: https://infobanknews.com/batara-sianturi-bahasa-hati-global-banker/

Batara Sianturi: Bahasa Hati Global Banker

Dia bankir Indonesia pertama yang dipercaya masuk jajaran country head. Bankir dengan empat disiplin ilmu berbeda yang diraihnya dengan pujian. Darto Wiryosukarto

MENIKMATI afternoon tea time di ketinggian 26,60 meter, dengan pemandangan Senayan Golf Driving Range dan kepadatan lalu lintas sore di Jalan Sudirman, Jakarta, mungkin hal biasa. Menjadi luar biasa ketika semua itu dinikmati bersama Batara Paruhum Sianturi, Citi Country Officer & Country Head for Citi Indonesia. Dan, pada sore yang hangat di Citibank Tower 7th Sudirman, Jumat, 20 November 2015, Infobank mendapat kesempatan istimewa itu.

Batara bukan bankir biasa. Dia bankir Indonesia pertama yang menjadi country head dalam sejarah Citigroup. Bukan sembarang bank, melainkan big bank group dengan aset US$1.843 miliar yang berdiri sejak 1812 di New York City dan tersebar di lebih dari 700 kota besar di 101 negara. Selama lebih kurang dua jam, banyak value yang di-share Batara dari perjalanan karier globalnya selama 27 tahun di Citibank Group.

Pria kelahiran Jakarta, 16 Juni 1960, ini memulai perjalanan kariernya sebagai global banker setelah ditunjuk menjadi general manager di Citibank Australia pada 1995. Saat itu dia sudah tujuh tahun berkarier di Citibank Indonesia dengan jabatan terakhir chief financial officer (CFO) di consumer banking. Hanya satu tahun sembilan bulan Batara bertugas di Negeri Kanguru itu. Menjelang akhir 1996, ia kembali ke Indonesia.

Hampir 10 tahun Batara menapaki karier di Citibank Indonesia sepulangnya dari Australia. Beberapa jabatan pernah diembannya, mulai dari retail branch director pada 1997 hingga marketing director pada 2005. Sebagai Citibanker, Batara dididik menjadi bankir dengan orientasi global. Makanya, dia mencoba untuk menjajal di negara lain.

Awalnya Batara ingin mencoba kawasan Asia, tapi pada tahun itu belum ada posisi yang cocok. “Saya kemudian minta izin untuk nyebrang ke region lain,” ujarnya kepada Karnoto Mohamad, Darto Wiryosukarto, Pujo Wibowo, dan Erman Subekti (fotografer) dari Infobank, pada November 2015.

Citibank Hungaria menjadi tempat berlabuh Batara di tahun 2005, dan dua tahun kemudian Batara ditunjuk sebagai Citi country officer & country head. “It’s my first Country Head position,” tegasnya. Tak hanya membawahkan Hungaria, Batara juga meng-handle kantor Citibank di 12 negara lain yang masih di kawasan Eropa Timur, yakni Serbia, Montenegro, Bosnia, Makedonia, Albania, Kroasia, Slovenia, Estonia, Lituania, Latvia, Belarus, dan Moldova.

Setelah delapan tahun di Citibank Hungaria, Batara hijrah ke Citibank Filipina pada 2013. Meski hanya meng-handle satu negara, secara skala ekonomi, jumlah nasabah, dan tanggung jawab lebih besar. “Seingat saya, di Hungaria PDB/GDP-nya US$130 miliar, Filipina US$275 miliar. Lebih besar di Filipina dan lebih kompleks bisnisnya,” ungkap suami Debbie dan ayah Naomi, Joshua, dan Samuel ini.

Pada pertengahan 2015 Batara mendapat kepercayaan untuk mengendalikan Citibank Indonesia, persis pada pengujung tahun dibukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Ini merupakan kepercayaan besar dari shareholder Citibank. Sebab, pada MEA nanti Indonesia akan menjadi pasar utama dengan besarnya potensi market yang ada. Tak sekadar market, challenge yang harus dihadapi Citibank dan bank lain pun makin besar.

Challenge lebih besar karena Indonesia is a big country and one the biggest countries in ASEAN. Tentu pergulatannya akan lebih seru. After ten years working abroad, now it’s time for me to contribute back to my country and I’ll do my very best to give the most impact in Indonesia. Pengalaman saya 12 tahun sebagai global banker dapat saya manfaatkan untuk kebaikan dan kemajuan industri perbankan tanah air. Hal-hal yang bagus dari luar Indonesia bisa di-adopt di sini, sebaliknya apa yang baik di Indonesia juga banyak yang bisa diekspor untuk kolega saya di Eropa Timur,” papar pria bertubuh atletis yang menjaga kebugaran tubuhnya dengan rutin berolahraga lari ini.

Bagi Batara, mengukir karier tak semudah membalik telapak tangan. Beruntung, Batara memiliki disiplin tinggi dan ketekunan luar biasa. Dalam hal pendidikan, misalnya. Batara menyelesaikan dua disiplin ilmu yang berbeda dan dua-duanya lulus dengan pujian di Case Western Reserve University, Cleveland. Ia mengambil program Bachelor of Science-Chemical Engineering dan Bachelor of Science-Polymer Science. Batara masuk pada September 1979 dan lulus per Mei 1983.

Saat mengambil program master of engineering-chemical di Stevens Institute of Technology, Hoboken, NJ, USA (1983-1984), dan program M.B.A. di St. John’s University, New York, USA (1986-1988), Batara juga lulus dengan pujian. Sementara, program doktoral program chemical engineering dia sempat ikuti di Polytechnic Institute of New York, New York, USA (1985-1986). Selain itu, Batara mengikuti pendidikan singkat di Stanford University (1980), Harvard University (1981), dan Columbia University (1982).

Sejak awal, Batara sebetulnya bercita-cita menjadi chemical engineer. Dari sembilan tahun belajar di Amerika, tujuh tahun di antaranya untuk mempelajari chemical engineering. Namun, pada dua tahun terakhir dia belajar finance. “That’s what I learned while pursuing M.B.A., and I like banking until now,” akunya.

Pilihan Batara berkarier di dunia perbankan tak salah. Di industri ini kariernya melesat bak anak panah. Apa yang menjadi pegangan Batara dalam berkarier? “Do your best, because when you do your best, people will recognize and appreciate it. And then be passionate. You should have passion. Orang bilang, kenapa Anda sudah jam lima, jam enam, masih happy saja bekerja. Because, I love my job, I’m very passionate about it,” tuturnya.

Ada satu hal yang menarik dari sosok Batara, yakni caranya dalam berkomunikasi dengan orang lain. Saat di Hungaria, misalnya, dia menyisihkan waktunya yang padat untuk kursus bahasa setempat. Pun saat di Filipina, dia meluangkan waktu dua jam pada setiap Sabtu untuk belajar bahasa Tagalog. Hal itu ia lakukan agar bisa berkomunikasi dengan masyarakat setempat. Dengan menguasai bahasa setempat, dia bisa mendapatkan hal lebih. “By learning the language, you understand the culture, you win the heart of your people, and you become a better leader. There is a saying that one needs to touch the heart before one ask for a hand. Seseorang harus menyentuh hati dahulu baru kemudian meminta bantuan. Yang penting kan hati,” ujarnya. (*)

Interview sangat menarik tahun 2018 yang lalu yang diambil dari link beritasatu.com

Batara Sianturi, Semua Hal yang Besar Membutuhkan Waktu Senin, 17 Desember 2018 | 21:47 WIB
Oleh : GOR

Tidak banyak orang Indonesia yang dipercaya untuk menjadi pemimpin perusahaan multinasional di luar negeri. Batara Sianturi termasuk salah satu yang berhasil menjadi bankir Indonesia pertama yang dipercaya sebagai country head dalam sejarah Citibank, bank berskala global yang berdiri sejak 1812 di New York dan tersebar di lebih dari 160 negara dan yurisdiksi.

Pria kelahiran Jakarta 16 Juni 1960 ini telah meniti karier di Citibank selama 30 tahun, 18 tahun di antaranya di Citibank Indonesia, dan 12 tahun lainnya di Citibank luar negeri. Bahkan, ia pernah menjadi CEO (Chief Executive Officer) Citibank untuk Eropa Timur yang membawahkan 13 negara (2008-2013), dan CEO Filipina dan Guam (2013-2015) sebelum kembali ke Indonesia sebagai CEO Citi Indonesia.

Menurut dia, banyak orang hebat dari Indonesia yang mempunyai kompetensi dan integritas tinggi untuk memimpin perusahaan di luar negeri agar menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Untuk itu, dalam kepemimpinannya, ia terobsesi untuk mencetak rekor yakni menjadikan Citibanker Indonesia sebagai CEO di negara orang, bukan hanya CEO di negara sendiri.

Menurut Batara, untuk menjadi Citibanker yang andal harus mempunyai kompetensi dan bisa menjunjung tinggi nilai-nilai etika serta integritas sehingga masyarakat tahu bahwa seorang Citibanker identik dengan bankir yang dapat dipercaya.

Batara mempercayai bahwa semua hal yang besar dalam kehidupan ini membutuhkan waktu, seperti perjalanan hidupnya dalam meniti karier di Citibank. “Everything great in life takes time,” kata Batara kepada tim Investor Daily, di Jakarta, baru-baru ini.

Batara ingin membagikan prinsip ini kepada kaum milenial karena dalam kehidupan ada prinsip yang berlaku sekarang dan berlaku dikemudian hari yang telah teruji kebenarannya oleh waktu. Tidak ada jalan pintas (there is no such thing as a short cut).

Untuk mengetahui lebih jauh perjalanan karier, kisah sukses, dan filosofi kepemimpinan Batara Sianturi, berikut petikannya:

Bagaimana awal Anda memulai karier di dunia perbankan?

Saya sudah berkarier di industri perbankan selama 30 tahun, 18 tahun di antaranya di Citibank Indonesia, dan 12 tahun lainnya di Citibank luar negeri. Kantor cabang Citibank luar negeri yang pernah menempa saya dalam meniti karier adalah Citibank Australia selama dua tahun, Hungaria yang membawahi 12 negara di Eropa Timur selama delapan tahun, dan Filipina selama dua tahun. Jadi, secara keseluruhan saya sudah berpindah- pindah tugas di perwakilan Citibank luar negeri untuk 15 negara. Saya bergabung dengan Citibank pada 1988 sebagai management associate, seperti management trainee.

Saya juga mendapat kesempatan untuk pindah ke bagian lain, seperti bagian audit, operasional, finance, hingga ke bagian mortgage. Kemudian saya balik ke Indonesia memimpin semua cabang, Retail Banking dan Marketing, selanjutnya pindah ke Eropa Timur tahun 2005. Ketika saya berkarier di Eropa Timur, saya membawahkan 13 negara. Saat di Filipina, saya membawahkan Flipina dan Guam. Setelah itu, saya kembali ke Indonesia hingga sekarang.

Bisa diceritakan bagaimana Anda berproses dalam meniti karier di perbankan?

Semua ada proses belajar. Saya mengalami berpindah-pindah negara, sehingga ada rotasi geografik pindah Indonesia ke Australia balik ke Indonesia, balik lagi Eropa Timur, Filipina lalu ke Indonesia lagi. Ada juga rotasi bisnis, saya pernah di bagian consumer banking, terus pindah ke institutional banking. Jadi berbagai macam bagian bisnis perbankan pernah saya rasakan.

Apakah karier perbankan merupakan panggilan hati Anda sejak awal?

Saya rasa, kalau panggilan saya dalam meniti karier adalah di perbankan, saya mungkin salah memulai karena dari sembilan tahun waktu belajar saya, tujuh tahun saya habiskan untuk menggeluti ilmu teknik kimia. Jadi, harusnya panggilan saya menjadi seorang insinyur.

Kemudian saya menyadari bahwa panggilan saya adalah menjadi seorang bankir. Bukan dokter, bukan insinyur, tetapi seorang bankir. Sebelum berkarier di perbankan, saya menghabiskan sembilan tahun di AS untuk belajar dan mendapatkan dua gelar S1 di bidang teknik kimia dan Polymer Macromolecular Science dari Case Western Reserve University.

Setelah itu, saya melanjutkan kuliah untuk mendapatkan dua gelar master, yakni Master of Chemical Engineering dari Steven’s Institute of Technology dan Master of Business Administration (MBA) dari St John University.

Karena saya menyadari panggilan saya adalah menjadi seorang bankir, saya tidak bosan dalam menggeluti pekerjaan. Saya meyakni, panggilan kita akan mempertemukan dengan karier dan itu akan membuat kita merasa senang dalam bekerja. Meskipun kita sudah bekerja selama 30 tahun, kita tidak pernah merasa lelah atau bosan.

Apa kiat sukses Anda dalam meniti karier?

Saya rasa kiat sukses dari semua pekerjaan sama, tidak hanya dalam dunia perbankan, tetapi di semua jalur pekerjaan. Saya yakin, jika fondasi dalam meniti karier adalah kompetensi maka kita akan benar-benar menjadi kompeten.

Kalau mau menjadi bankir, jadilah bankir yang kompeten. Di Citibank ada core competence yang bisa melihat apakah seseorang cocok menjadi Citibanker karena Citibank bukan bank lokal atau bank regional, tetapi bank berskala global. Citibank melihat orang-orang yang layak untuk menjadi Citibanker yakni orang-orang yang berpandangan global, merasakan ekonomi global, dan menikmati denyut bisnis global.

Orang-orang demikian pasti tertarik untuk bergabung dengan organisasi semacam Citibank. Jadi, kompetensi adalah dasar, di atas komitmen yang diimplementasikan melalui bagaimana cara bereaksi dan berinteraksi dengan anak buah, atasan, klien, dan juga dengan regulator. Ini bagian dari emotional quotien.

Menurut saya, untuk menjadi sukses, kita harus mempunyai keterampilan (skill) yang saya sebut sebagai emotional quotient atau EQ. Kita harus tahu siapa diri kita dan harus tahu orang lain. Jadi tahu persis bagaimana harus berinteraksi satu sama lain dan bagaimana bekerja dalam sebuah team work. Saya punya moto di Citibank Indonesia “We like superstars but we prefer a winning team (kita suka superstar tetapi kita lebih suka punya tim pemenang).”

Seandainya sebuah tim banyak superstarnya, tapi timnya tidak menang menang, karena mengedepankan ego dari masing masing superstarnya, itu percuma saja. Jadi, team work sangat penting karena dilandasi EQ. Dan terakhir, kita harus punya energi dan passion.

Nilai-nilai apa saja yang Anda tanamkan dalam mengelola perusahaan?

Citibank mempunyai banyak kepedulian terkait etika sebab bisnis perbankan sangat spesialis dan profesional dimana bank adalah bisnis kepercayaan. Citibank meletakkan standar yang sangat tinggi untuk etika. Ada buku yang menyebutkan, tidak ada yang namanya etika bisnis dan etika privat, yang ada hanyalah etika.

Jadi, dalam kehidupan pribadi atau pun kehidupan karier profesional, di rumah maupun di kantor, cuma ada satu etika. Jadi, jika bergabung dengan Citibank, dan menyebut diri Anda sebagai Citibanker, Anda harus memiliki integritas tinggi karena Citibank adalah bisnis kepercayaan dan wajib dilakukan karena itu sangat bernilai.

Kepercayaan dan integritas mempunyai harga sehingga harus ditunjukkan. Dengan demikian masyarakat tahu bahwa seorang Citibanker identik dengan bankir yang dapat dipercaya.

Bagaimana cara Anda menjalin hubungan dengan bawahan, mitra, dan kolega?

Gaya manajemen yang saya lakukan adalah manajemen partisipasi atau participative management. Saya ingin semua orang berpartisipasi dalam diskusi untuk menemukan solusi dalam setiap permasalahan. Saya punya kebiasaan sering jalanjalan ke tempat anak buah sehingga ketika meeting, saya memperoleh informasi lebih update tentang kondisi terkini. Jadi, saya sangat percaya dengan manajemen partisipasi.

Saya sering berkeliling dan berinteraksi langsung, baik untuk menemui anak buah, klien, atau kolega. Untuk kolega yang berada di negara lain, saya sering telepon atau video conference dan saya merasa face to face lebih powerful dalam berkomunikasi untuk memecahkan masalah.

Saya juga menggunakan cara komunikasi melalui berbagai media, seperti email dan whatsapp. Saya menyukai manajemen yang benarbenar efektif.

Bagaimana cara Anda menggenjot kinerja perusahaan?

Setiap tahun kita membuat perencanaan dengan timeline. Dan kalau timnya dalam satu perahu berarti kita harus meyakini bahwa proses untuk melaksanakan perencanaan benarbenar terlaksana sehingga target yang diinginkan bisa tercapai. Jadi, seorang pemimpin harus punya visi.

Kita harus tahu saat ini posisi kita di mana, kemudian harus ke mana, dan bagaimana caranya. Contoh, umpamanya profit kita sekarang 100, kalau ingin naik menjadi 120, kita harus membuat perencanaan untuk meletakkan proses agar kenaikan profit itu bisa tercapai.

Cara Anda mengatasi perbedaan pendapat?

Sebetulnya beda pendapat itu bagus karena jangan sampai dalam manajemen tidak ada yang berani mengeluarkan pendapat dan menjadi orang yang yes man. Dalam diskusi biasanya terjadi perbedaan pendapat, tetapi yang terpenting bagaimana menemukan solusi pemecahan masalah.

Cara Anda mengatasi tantangan saat ini dan ke depan?

Seorang CEO harus selalu melihat tantangan dan peluang sehingga dia harus tahu bahwa ada tantangan dalam peluang dan dalam tantangan ada juga peluangnya. Tantangan industri perbankan tahun depan dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti kenaikan suku bunga Fed Funds Rate (FFR), situasi di Eropa, perang dagang antara AS dan RRT, dan perlambatan ekonomi global.

Semuanya pasti berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia karena dunia sudah terkoneksi di era globalisasi. Jadi, tugas kami adalah memastikan bahwa navigasi yang kita buat bisa mengatasi volatilitas pasar dan memastikan target-target yang sudah direncanakan bisa tercapai.

Dalam kondisi volatilitas pasar yang tinggi seperti saat ini, kami harus memiliki beberapa opsi agar pererencanaan benar-benar terwujud dengan baik. Saya meyakini peluang masih besar karena Indonesia adalah negara besar yang memiliki peringkat investasi cukup bagus sebagai investment grade, indeks kompetisi RI juga meningkat, pertumbuhan ekonomi 5,17%. Indonesia juga diuntungkan dengan bonus demografi berupa banyaknya penduduk usia produktif.

Citibank mempunyai 3.000 staf, 62%-nya milenial. Jadi, saya juga harus menyesuaikan gaya manajemen agar menjadi relevan. Citibank dikenal sangat produktif mencetak bankir-bankir andal Indonesia, yang sudah menjadi pemimpin di berbagai bank, baik lokal, regional, maupun global. Alumni Citibank ada juga yang duduk di pemerintahan, di kabinet kepresidenan. Dengan legacy tersebut, Citibank merayakan 50 tahun keberadaannya di Indonesia. Legacy Citibank sebagai pencetak bankir handal harus terus direplikasikan pada generasi milenial yang sekarang.

Bagaimana target ke depan?

Kami ingin menjadi perbankan yang sangat kuat, baik di lini institutional banking, commercial banking, maupun di consumer banking. Bagaimana Citibank sebagai sebuah bank berskala global terus memiliki relevansi dan memberikan solusi dan konten kepada klien kami. Kami ingin menjadi sebuah franchise global banking yang sangat kuat.

Sejauh ini, gebrakan apa yang Anda rasa paling monumental selama berkarier?

Kami fokus pada digitalisasi bisnis. Sewaktu saya ditugaskan di Citibank Indonesia tahun 2015, kita punya kantor cabang 20 cabang, tapi sekarang cabangnya hanya 10 karena memang hampir 80% transaksi saat ini di luar cabang. Landscape perbankan telah berubah, pasar perbankan juga berubah. Fase pertama bank adalah fase physical distribution seperti kantor cabang, ATM, terus EDC. Kemudian masuk fase kedua yakni phone banking atau analog.

Sekarang masuk fase ketiga, yakni digital. Artinya, pada fase digital, transaksi melalui cabang akan turun, transaksi phone banking akan turun. Layanan perbankan harus menyesuaikan dengan perilaku masyarakat yang hidup di era digitalisasi.

Bagaimana dengan pencapaian?

Kami berada di depan kurva. Pada 2016, kantor cabang dipangkas 50% karena kami ingin memastikan bahwa apa yang kami lakukan merupakan solusi dalam menjawab tantangan masa depan. Cabang perbankan sudah pindah dalam genggaman tangan, bukan Anda yang pergi tetapi perbankan datang ke Anda melalui mobile phone. Dan mobile first merupakan prioritas dari Citibank.

Nilai-nilai yang Anda terapkan dalam berbisnis, keluarga, dan masyarakat?

Menurut saya, banyak sekali halhal antara kehidupan pribadi dan kehidupan profesional sekarang sudah tidak bisa dipisah lagi. Misalnya, saya pergi dari ruangan ini untuk jalan- jalan di mal. Orang agak susah membedakan itu yang jalan Batara seorang pribadi atau CEO Citibank.

Artinya saya harus selalu bersikap layaknya seorang Citibanker. Saya tidak bisa berperilaku bebas semau saya sendiri. Apa yang saya share di media sosial harus mencerminkan nilai-nilai yang saya junjung. Jadi kita harus selalu menjunjung tinggi etika.

Dalam karier, filosofi apa yang Anda kedepankan?

Saya percaya, semua hal yang besar di kehidupan ini membutuhkan waktu. Untuk jadi seorang jenderal harus melewati posisi kopral. Demikian juga untuk menjadi managing director di bank, harus melewati posisi manager dulu.

Everything great in life takes time, itu sebenarnya nilai-nilai yang ingin saya share kepada generasi milenial. Tak ada jalan pintas (there is no such thing as a shortcut), jadi harus melalui proses. Ada hal-hal yang dalam kehidupan itu merupakan prinsip yang berlaku sekarang dan berlaku di kemudian hari yang telah teruji kebenarannya oleh waktu.

Kita juga harus fokus karena kita sekarang hidup dalam era parallel priorities. Misalnya, hari ini saya ada interview dan rapat, jadi harus punya parallel thinking sehingga perlu kemampuan multitasking untuk mengatasi tantangan.

Dalam 30 tahun berkarya, apa obsesi yang ingin dicapai ke depan?

Saya ingin melihat kolega di Citibank Indonesia, baik yang muda atau senior suatu hari memecahkan rekor. Bagaimana mereka bisa juga menjadi CEO di negara orang. Kalau saya bisa menjadi CEO di Hungaria, Eropa Timur yang membawahi 13 negara, kemudian di Filipina membawahi Filipina dan Guam, saya ingin suatu hari ada yang lebih hebat sehingga membuat kita orang Indonesia jadi bangga, bukan hanya jadi CEO di negara sendiri.

Saya melihat ekspatriat dari India, Pakistan, Filipina, atau dari Eropa, dan AS sudah bisa jadi CEO di berbagai negara. Saya rasa, orang Indonesia tidak kekurangan kompetensi.

Obsesi pribadi Anda?

Saya ingin jadi seorang pemimpin yang baik untuk mencetak anak buah yang baik, mencetak seorang pemimpin yang baik, menciptakan successor yang baik. Leader produces leaders, leader produces successors and leader produces followers. Mudah mudahan saya bisa mencetak leader yang lebih banyak, followers dan anak buah yang bagus dan andal, dan calon pengganti saya suatu hari bisa membawa Citibank ke arah yang lebih baik.

Bagaimana Anda meluangkan waktu untuk keluarga?

Paradigma lama yang saya rasa kurang tepat untuk saat ini adalah work life balance karena saya di kantor dari jam 9 pagi sampai jam 6 malam atau sekitar 9 jam, sisanya baru di rumah. Misal tidur 6 jam, sisanya dengan keluarga. Ada yang bilang work life fleksibility paling cocok buat saya saat ini.

Buat saya mungkin work life adalah nyaman kalo saya kerja 12 jam, datang di kantor jam 8 pulang jam 8 itu nyaman. Jika pulang lebih cepat maka badan akan terasa sakit karena buat saya yang terpenting output. Kalau kita bicara paralel, ada komunikasi melalui WA dengan keluarga, WA dengan teman. Jadi dengan segala macam alat yang tersedia, waktu menjadi lebih fleksibel.

Peran keluarga dalam karier Anda?

Sangat penting. Selama 30 tahun meniti karier, dan 12 tahun tugas di luar negeri, bersama istri dengan tiga anak yang tidak terpisahkan. Jadi buat saya, peran keluarga sangat luar biasa dalam mendukung karier dan dalam waktu yang bersamaan saya selalu membuat quality time untuk keluarga.

Hobi Anda?

Olahraga. Saya bangun jam 5 pagi terus olahraga sampai jam 8 pagi, antara lain olahraga lari, angkat besi, pilates, atau berenang. Itu saya lakukan rutin tiap hari. Selain itu, saya juga gemar membaca buku nonfiksi, seperti biografi.

Kegiatan yang dilakukan ketika weekend?

Yang pasti, paling enak Sabtu Minggu tidur siang jika di rumah tidak ada acara arisan keluarga. Terkadang saya juga ke mal atau nonton. (*)